Goodlife

8 FaktorTerhindar COVID-19 & Bersegera Ke Dokter

Pemerintah telah memutuskan untuk melonggarkan kebijakan pemakaian masker jika sedang beraktivitas di luar ruangan atau di area terbuka. Begitu pun,  untuk kegiatan di ruangan tertutup dan transportasi publik, tetap harus menggunakan masker, terlebih bagi masyarakat yang masuk kategori rentan, lansia atau memiliki komorbid.

Tak lepas, kajian resiko yang baru-baru, ini dilakukan oleh Sekretariat WHO (World Health Organization) masih menunjukkan adanya potensi ancaman penularan virus COVID-19 terhadap kesehatan manusia yang masih dinilai tinggi. Direktur Jenderal WHO belum lama, ini menyatakan persetujuannya terhadap saran yang diberikan oleh Komite lembaga Internasional  mengenai pandemi COVID-19 yang masih berlangsung dan hingga saat, ini masih  menjadi darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian Internasional (kesehatan PHEIC.

Di Indonesia, masyarakat yang terpapar COVID-19 yang berpotensi mengalami gejala berat,  kini dapat mengurangi rawat inap dan resiko kemat untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

Terkait   COVID-19 dirasa masih mengintai,  dirasa perlunya  masyarakat di Tanah Air diberikan pemahaman dan edukasi akan pentingnya memahami faktor resiko tinggi dan tips melindungi dari  gejala  berat COVID-19.

Berangkat dari sana,  Pfizer Indonesia bekerjasama  dengan Pengurus Pusat Persatuan  Dokter Paru Indonesia (PDPI), menyelenggarakan acara diskusi berupa talkshow bertajuk “COVID19 Masih Mengintai: Memahami Faktor Risiko Tinggi & Tips Melindungi Diri dari Gejala Berat COVID19”.

Topik dari diskusi secara  webinar, berlangsung Selasa, 21 Maret 2023, adalah : “Pengenalan Dini Bila Terinfeksi Covid-19”, merupakan paparan  DR. dr. Fathiyah Isbaniah, Sp. P(K),  MPd, Ked, Anggota Pokja Infeksi PDPI.

Selanjutnya, topik, “COVID-19 Masih Mengintai: Memahami  Faktor Resiko Tinggi pada Masyarakat  &  Tips  Melindungi Diri  dari Gejala Berat COVID-19”, disampaikan oleh  DR. dr. Irawaty Djaharuddin Sp.P(K), FISR, Sekretaris Pokja Infeksi PP PDPI.

Dalam acara dengan moderator Pratiwi Astari, Presiden Direktur Pfizer Indonesia, Nora T. Siagian menyampaikan, “COVID-19 dapat membuat siapa pun sakit parah. Tetapi bagi sebagian orang, resikonya lebih tinggi. Oleh karena itu, keadaan ini perlu tetap diwaspadai, terutama di saat mobilitas masyarakat sudah kembali normal dan berpotensi terus meningkat. Memahami resiko COVID-19 untuk diri sendiri dan orang di sekitar kita akan dapat membantu dalam membuat keputusan yang tepat dan bertindak cepat untuk menjaga agar tetap aman dan sehat.”

Faktor Risiko Gejala Berat COVID-19

Sekretaris Pokja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), DR. dr. Irawaty Djaharuddin, Sp.P(K), FISR mengatakan, “Kondisi saat, ini menunjukkan bahwa resiko COVID-19 masih tinggi dan masyarakat harus tetap waspada.”

Dr. Irawaty lebih lanjut mengutarakan, “Meningkatnya mobilitas masyarakat, kegiatan berkumpul, dan mudik saat  perayaan Idul Fitri perlu diwaspadai dengan potensi penularan COVID-19.”

Dr. Irawaty Djaharuddin menjelaskan tentang pentingnya menetapkan status resiko seseorang secara mandiri, sebab satu dari lima orang di Dunia memiliki satu faktor resiko yang dapat membuat gejala COVID-19 cukup berat.  “Memahami status resiko merupakan bagian penting dalam melindungi diri dari gejala berat COVID-19. Bahkan memiliki satu faktor resiko saja dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami gejala berat secara signifikan jika tes COVID-19 menunjukkan hasil positif.” 

Ada pun faktor umum yang dapat menempatkan seseorang pada resiko tinggi COVID-19 di antaranya adalah usia di atas 60 tahun,  obesitas, perokok aktif, penderita penyakit imunosupresif atau penggunaan obat-obatan yang melemahkan sistem imun untuk waktu yang lama, penyakit paru kronis, hipertensi, penyakit kardiovaskular, Diabetes Mellitus Tipe 1 atau 2, penyakit ginjal kronis, dan penyakit anemia sel bulan sabit.

Dr. Irawaty Djaharuddin menyarankan, “Konsultasikan dengan Dokter untuk pilihan pengobatan yang tepat dengan mempertimbangkan faktor resiko. Dokter perlu mengetahui obat-obatan lain yang sedang dikonsumsi.”

Langkah Menangani Faktor Risiko Terpapar COVID-19

Anggota Pokja Infeksi Persatuan Dokter Paru Indonesia, DR. dr. Fathiyah Isbaniah, Sp.P(K), MPd, Ked., mengingatkan kembali  tentang pentingnya mewaspadai gejala yang ada, “COVID-19 dapat muncul dalam satu atau beberapa gejala, seperti batuk, pilek, demam, atau hanya merasa lelah. Bagi sebagian orang, bahkan gejala ringan bisa dengan cepat menjadi berat; kemudian kehilangan rasa atau bau, mual atau muntah, sakit tenggorokan, diare, demam atau menggigil, nyeri otot atau nyeri sekujur tubuh, sakit kepala, sesak napas atau kesulitan bernafas. Namun demikian, beberapa orang tidak memiliki gejala yang terlihat.”

Dr. Fathiyah Isbaniah mengingatkan seseorang yang merasakan terdapat gejala atau lima hari setelah berinteraksi dengan seseorang yang terindikasi terkena COVID-19 agar jangan abai dan segera melakukan tes  COVID-19, sebab penyakit tersebut dapat menyebar dengan cepat dan dapat menulari orang lain tanpa sepengetahuan kita, dan segera menghubungi Dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.”

“Perawatan COVID-19 paling efektif jika dimulai sesegera mungkin setelah dinyatakan positif. Tidak perlu menunggu sampai gejala memburuk, dan pengobatan harus segera dimulai saat gejala masih terasa ringan hingga sedang,” jelas Dr. Fathiyah Isbaniah lebih mendalam.

Terapi Oral Antivirus Mengurangi Jumlah Rawat Inap

Dr. Irawaty Djaharuddin menjelaskan bahwa saat ini sudah tersedia terapi oral antivirus di mana pasien COVID-19 dapat mengurangi jumlah rawat inap, sehingga mengurangi biaya medis terkait dengan perawatan COVID-19. “Meski pun vaksinasi tetap menjadi cara yang efektif untuk membantu mencegah COVID-19, kini pasien COVID-19 dapat dirawat di rumah dengan terapi oral antivirus. Selain mengurangi jumlah rawat inap, juga mengurangi resiko kematian dan membantu menyelamatkan nyawa, dengan demikian mengurangi biaya medis, sehingga membantu meringankan beban masyarakat,” imbuh Dr. Irawaty Djaharuddin. 

Terkait terapi oral antivirus COVID-19, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia telah memberikan Izin Penggunaan Darurat (Emergency Use Authorization (EUA)) untuk Nirmatrelvir 150mg/Ritonavir 100mg Tablet Salut Selaput untuk diproses ketersediaannya di Indonesia.

Pengobatan antivirus Pfizer ini merupakan pengobatan oral yang mencakup Nirmatrelvir, yaitu penghambat protease 3CL yang dirancang khusus secara spesifik untuk memerangi SARS-CoV-2. Data menunjukkan penurunan resiko rawat inap dan kematian akibat COVID-19 sebesar 89% dan 88% pada orang dewasa yang diberikan pil antivirus Pfizer masing-masing dalam tiga dan lima hari setelah timbulnya gejala, jika dibandingkan dengan plasebo.

Tips Melindungi Diri dari COVID-19

Agar terhindar dari COVID-19 yang masih terus mengintai, Dr. Fathiyah mengingatkan pentingnya menerapkan praktik kesehatan dan kebersihan mendasar, seperti mencuci tangan, menghindari menyentuh mata, hidung, dan mulut; menutupi hidung dan mulut saat batuk, menghindari tempat keramaian dan kontak dekat dengan siapa saja yang menderita demam atau batuk, tetap di rumah jika merasa tidak sehat.

Menutup Webinar, Dr. Fathiyah Isbaniah memberikan tips melindungi diri dari terjangkitnya COVID-19 dengan gejala berat, termasuk mengikuti booster vaksinasi COVID-19; meningkatkan ventilasi ruangan, menjalani tes COVID-19 jika diperlukan, mengikuti rekomendasi Dokter jika terpapar; tetap tinggal di rumah jika terduga atau terkonfirmasi COVID-19; menghindari kontak dengan orang yang diduga atau dikonfirmasi COVID-19; serta konsultasi dengan dokter terlebih jika memiliki faktor resiko tinggi. 

[]Syaini & Andriza Hamzah

Photo : Dok.  PR Emerson

Keterangan Photo :

Moderator : Pratiwi Astari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *