Sebagai bagian dari upaya untuk mewujudkan kepedulian terhadap pemudik Idul Fitri 2025, Kalbe — PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) berdiri sejak tahun 1966 dan merupakan salah satu Perusahaan farmasi terbuka terbesar di Asia Tenggara — melalui Entrostop dan Promag menggelar Emergency STOOOOOP! dengan membagikan produk kesehatan pencernaan senilai lebih dari Rp 1 miliar di jalur […]
Kiranya, prevalensi anak berperawakan pendek di Indonesia tergolong masih tinggi. Maka urgensi untuk memperluas akses gizi seimbang dan ketahanan pangan.
Terkait, catatan dari penelitian terbaru South East Asian Nutrition Surveys kedua (SEANUTS II) mendapati prevalensi anak stunteddan anemia, khususnya di antara anak-anak usia di bawah 5 tahun di Indonesia, tertera masih tinggi. Bahkan, sebagian anak Indonesia yang menjadi bagian dari penelitian mengenai status gizi, asupan gizi, perilaku dan gaya hidup di empat Negara Asia (Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam) tersebut juga masih belum terpenuhinya rata-rata asupan vitamin dan mineral yang direkomendasikan untuk tumbuh kembang yang sehat.
Situasi ini menuntut perhatian yang lebih serius dari berbagai pihak untuk meningkatkan akses yang lebih besar terhadap gizi yang lebih baik, yang dibutuhkan anak-anak Indonesia mencapai tumbuh kembang yang optimal dengan pendekatan pada perilaku dan gaya hidup sehat juga aktif.
SEANUTS II, yang merupakan lanjutan dari South East Asian Nutrition Surveys (SEANUTS I), yang dipublikasikan pada tahun 2013, merupakan penelitian skala besar, dilakukan oleh FrieslandCampina, dalam rentang waktu antara 2019 dan 2021, bekerja sama dengan Universitas dan lembaga penelitian terkemuka di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Melibatkan hampir 14.000 anak, antara usia enam bulan hingga 12 tahun, khusus menyoroti ‘triple burden of malnutrition’, yang terdiri dari kekurangan gizi, kekurangan zat gizi mikro, dan kelebihan berat badan/obesitas.
Ketiga masalah ini seringkali terjadi berdampingan di suatu Negara dan bahkan bisa terjadi dalam satu rumah tangga. Stunting, adalah salah satu bentuk dari kekurangan gizi di Indonesia masih menjadi isu yang perlu diperhatikan.
Salah satu hasil utama dari SEANUTS II di Indonesia adalah kasus stunted yangmasih banyak ditemukan pada anak-anak di wilayah Jawa-Sumatera, dengan prevalensi sebesar 28,4 persen. Ini artinya, satu di antara 3,5 anak berperawakan pendek. Ada pun prevalensi anemia adalah 25,8 persen pada anak di bawah 5 tahun. Sementara itu, hampir 15 persen anak usia 7–12 tahun memiliki kelebihan berat badan atau obesitas.
Secara keseluruhan, SEANUTS II menunjukkan bahwa permasalahan anak stunted atau berperawakan pendek dan anemia masih ada, terutama pada anak-anak usia dini. Namun, untuk anak yang berusia lebih tua, tingkat prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas lebih tinggi.
Selain itu, sebagian besar anak-anak tidak memenuhi kebutuhan rata-rata asupan kalsium dan vitamin D. Hasil pengecekan biokimia darah juga menunjukkan adanya ketidakcukupan vitamin D pada sebagian besar anak. Masalah gizi ini menjadi hal yang sangat penting. Untuk mengatasi kesenjangan gizi, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah melalui intervensi gizi yang lebih baik dan program edukasi.
Catatan SEANUT II Di Indonesia
Studi SEANUTS II Di Indonesia, melalui Frisian Flag Indonesia yang dimulai pada tahun 2019, dilakukan di 21 Kabupaten/Kota di 15 Provinsi dan melibatkan sekitar 25 tenaga Dokter, Ahli Gizi, Ahli Kesehatan Masyarakat, dan Ahli Olahraga. Bekerja sama dengan lembaga penelitian dan sejumlah universitas di Indonesia, SEANUTS II melakukan penelitian terhadap sekitar 3.000 anak dengan rentang usia antara 6 bulan sampai 12 tahun. Yang hasilnya menunjukkan adanya urgensi yang besar untuk memitigasi permasalahan gizi dengan langkah-langkah kolaboratif dan kebijakan yang strategis.
Tujuannya untuk memberikan anak-anak Indonesia akses yang lebih besar terhadap gizi yang lebih baik dan menurunkan angka malnutrisi serta permasalahan gizi anak lainnya.
Belum lama berselang, Wakil Presiden K.H. Ma’ruf Amin mengutip hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan, yang menunjukkan angka prevalensi stunting di Indonesia pada 2021 sebesar 24,4 persen atau menurun 6,4 persen dari angka 30,8 persen pada Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018. Pemerintah menargetkan, tahun 202, penurunan prevalensistunting hingga 14 persen.
Peneliti Utama SEANUTS II di Indonesia dan Guru Besar di Fakultas Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), mengatakan “Kami harapkan data temuan yang dihasilkan dari SEANUTS II dapat menjadi acuan tenaga medis, Pemerintah, bahkan orang tua, untuk menanggulangi masalah malnutrisi di Indonesia. Studi ini menunjukkan bahwa permasalahan stunted atau perawakan pendek,anemia, asupan makanan, aktivitas fisik anak dan kebugaran jasmani terkait kesehatan, perlu mendapat perhatian yang serius dari berbagai pihak.”
Maka saatnya meningkatkan ketahanan pangan dan ketersediaan makanan yang bisa memberikan asupan gizi yang seimbang, agar anak meningkatkan akses kepada sumber gizi yang sehat dan tumbuh kembangnya berlangsung dengan optimal. Dan gizi yang sehat adalah tentng gizi seimbang, cukup jumlahnya dan bervariasi, Maka bila anak tidak mendapatkan gizi yang dibutuhkan, maka mereka tida akan tumbuh dan berkembang dengan baik,” lanjut kata Prof. Dr. dr. RiniSekartini di acara temu media yang belangsung pada Minggu ketiga bulan Juni 2022, Hotel Pullman, Jakarta.
Diacara yang menghadirkan Dr. dr. Aria Kekalih, MTI, Peneliti SEANUTS II, Dr. dr. Dian Novita Chandra, M. Gizi, Peneliti SEANUTS II, Dr. dr. Listya Tresnanti Mirtha, Sp. KO, K-APK, Peneliti SEANUTS II, Andrew F. Saputro, Corporate Affairs Director Frisian Flag Indonesia mengatakan, “Frisian Flag Indonesia sebagai bagian dari FrieslandCampina, dengan bangga mempersembahkan hasil SEANUTS II kepada keluarga Indonesia dan pemangku kepentingan terkait. Kami berharap SEANUTS II dapat menjadi data komplementer bagi data Nasional yang ada, dan dapat dijadikan referensi bagi Pemerintah, Akademisi, Pemangku kepentingan dan semua pihak yang terkait sebagai basis data pembuatan program intervensi atau pun perumusan kebijakan terkait peningkatan status gizi generasi bangsa.”
Lanjutnya,”Frisian Flag Indonesia berkomitmen untuk terus berperan aktif membantu Pemerintah untuk meningkatkan literasi dan perbaikan status gizi keluarga Indonesia melalui penyediaan sumber gizi yang berkualitas, dalam upaya membangun keluarga Indonesia yang sehat sejahtera dan selaras.”
“Studi SEANUTS semakin menguatkan tekad Frisian Flag Indonesia untuk terus melakukan berbagai inovasi produk, program intervensi dan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan akan kesehatan umum dan literasi gizi. Pada tahun 2013, studi SEANUTS I menjadi latarbelakang lahirnya program Gerakan Nusantara atau program edukasi gizi anak sekolah yang hingga kini telah menjangkau lebih dari 2,5 juta anak sekolah dasar di berbagai pelosok sekolah di Tanah Air. Serta untuk inovasi, kami telah meluncurkan berbagai produk susu keluarga dan pertumbuhan yang tepat gizi dengan harga terjangkau.” tutup Andrew F. Saputro.
Tentu menjadi catatan dan perhatian khusus, estimasi kejadian kanker di Indonesia pada tahun 2020, menurut data GLOBOCAN 2020, mencapai 396.914 kasus baru dan sebanyak 234.511 kematian akibat kanker. Sementara itu, sebuah studi yang diterbitkan dalam Lancet Public Health dari American Cancer Society selama 20 tahun terakhir menunjukkan terjadi peningkatan tajam pada kejadian kanker pada mereka […]
Jakarta, 20 Maret 2018 – Rutinitas tidur berpelukan dengan pasangan nyatanya berikan beberapa hal positif. Terkecuali rasa nyaman, serta menguatkan ikatan, dapat juga buat tidur lebih lelap. Beragam faedah itu menurut pandangan beberapa psikolog berbuntut pada rasa bahagia keseluruhannya. Bahkan juga sentuhan yang dikerjakan bisa berikan rasa aman serta kurangi stres. Bila masih tetap sangsi […]
Terasa, Anda dan banyak dari kita kesulitan membendung dan menghindari godaan kuliner. Terlebih tradisi Lebaran yang diwarnai dengan hidangan lezat. Faktanya, selama perayaan, mayoritas masyarakat bahkan sering mengonsumsi makanan lebih dari tiga kali dalam sehari. Dan, penganan yang dikonsumsi yang kaya akan lemak yang dapat meningkatkan risiko kolesterol tinggi. Berujung, dapat membawa dampak negatif bagi kesehatan jangka panjang. […]