Health

Benarkah Atap Asbes Menyebabkan Kanker Paru ? Yayasan Kanker Indonesia Menjelaskan Bukti Ilmiahnya

Bertolak dari memperingati Hari Kanker Paru Sedunia yang tahun ini mengusung semakmangat “Bersama Melawan Kanker Paru”, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kanker paru melalui informasi kesehatan yang akurat, berimbang, dan berbasis bukti ilmiah.

Kiranya ini tidak lepas dari di tengah meningkatnya perhatian publik mengenai penggunaan atap asbes sebagai material bangunan, maka YKI memandang perlu memberikan penjelasan ilmiah agar masyarakat memahami faktor risiko kanker paru secara tepat.

Dikatakan oleh Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP, bahwa Hari Kanker Paru Sedunia merupakan momentum untuk memperkuat literasi kesehatan masyarakat. “Kanker paru masih menjadi salah satu penyebab kematian akibat kanker tertinggi di Dunia, termasuk di Indonesia. Maka momentum ini harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pencegahan, deteksi dini, serta pentingnya memperoleh informasi kesehatan yang didasarkan pada bukti ilmiah.”

Berdasarkan GLOBOCAN 2022, Indonesia mencatat sekitar 408.661 kasus baru kanker dan 242.988 kematian akibat kanker setiap tahun, atau sekitar 1.120 kasus baru dan 665 kematian setiap hari.

Merokok tetap merupakan faktor risiko utama kanker paru. Faktor risiko lain yang telah terbukti secara ilmiah meliputi paparan asbestos, asap rokok, gas radon, polusi udara, serta berbagai zat karsinogen di lingkungan kerja.

Menjawab pertanyaan yang berkembang di masyarakat mengenai apakah atap asbes menyebabkan kanker paru,  Yayasan Kanker Indonesia — organisasi nirlaba yang bersifat sosial dan kemanusiaan di bidang kesehatan, khususnya dalam upaya penanggulangan kanker — menegaskan bahwa ilmu pengetahuan membedakan antara keberadaan material yang mengandung asbestos dengan paparan serat asbestos yang terhirup.

Material yang mengandung asbestos dalam kondisi utuh memiliki potensi pelepasan serat lebih rendah dibandingkan material yang rusak, lapuk, dipotong, dibor, dipecahkan, atau dibongkar. Namun, World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa hingga saat ini tidak terdapat tingkat paparan asbestos yang benar-benar aman. Ketika serat asbestos berukuran mikroskopik terlepas ke udara dan terhirup, paparan tersebut telah terbukti meningkatkan risiko kanker paru dan penyakit terkait asbestos lainnya.

Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP

Menurut National Cancer Institute (NCI), serat asbestos yang terhirup dapat menetap di jaringan paru selama bertahun-tahun sehingga memicu inflamasi kronis dan meningkatkan risiko kanker paru mau pun mesothelioma.

Dijelaskan oleh Prof. Aru  bahwa seluruh jenis asbestos telah diklasifikasikan sebagai karsinogen bagi manusia (Group 1 Carcinogen) oleh International Agency for Research on Cancer (IARC).

“Maka yang penting dipahami masyarakat adalah bahwa risiko kesehatan berkaitan dengan paparan serat asbestos yang terlepas ke udara dan terhirup, terutama ketika material yang mengandung asbestos mengalami kerusakan, dipotong, dibor, atau dibongkar. Karena itu, komunikasi kesehatan harus selalu disampaikan secara proporsional dan berbasis bukti ilmiah agar tidak menimbulkan kepanikan yang tidak perlu,” jelas Prof. Aru.

Berkaitan dengan hal itulah YKI mengimbau masyarakat yang masih menggunakan material asbes agar tidak melakukan pembongkaran, pemotongan, pengeboran, atau penghancuran secara sembarangan karena kegiatan tersebut berpotensi melepaskan serat asbestos ke udara.

Maka apabila material telah rusak atau perlu diganti, proses pelepasan dan pembuangannya sebaiknya dilakukan sesuai prosedur keselamatan kerja untuk meminimalkan paparan terhadap penghuni mau pun pekerja. Penggunaan alat pelindung diri yang sesuai juga sangat dianjurkan bagi pekerja yang harus menangani material yang diduga mengandung asbestos.

Menutup keterangannya, Prof. Aru mengajak masyarakat memusatkan perhatian pada upaya pencegahan kanker paru yang telah terbukti efektif.

 “Kanker paru merupakan penyakit yang dalam banyak kasus dapat dicegah. Upaya terpenting tetap adalah berhenti merokok, menghindari paparan asap rokok, mengurangi paparan asbestos dan zat-zat karsinogen di lingkungan kerja, menjaga kualitas udara, serta melakukan deteksi dini pada kelompok berisiko sesuai rekomendasi medis. Melalui edukasi yang benar, kita tidak hanya mencegah kesalahpahaman, tetapi juga melindungi lebih banyak masyarakat dari faktor-faktor risiko kanker yang telah terbukti secara ilmiah,” ujar Prof. Aru.

Sebagai organisasi kanker Nasional, Yayasan Kanker Indonesia akan terus berkomitmen menyampaikan informasi kesehatan yang berbasis bukti ilmiah, mendukung kebijakan kesehatan masyarakat yang berlandaskan sains, serta memperkuat literasi masyarakat melalui kolaborasi dengan Pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, media, Dunia usaha, dan masyarakat.

 

[]Anissa Syaini

Photo : YKI/Emerson Asia Pacific

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *