World Heart Day 2026, yang jatuh pada 29 September, mengajak masyarakat untuk kembali memfokuskan perhatiannya terhadap kesehatan jantung. Tahun ini, World Heart Federation mengangkat tema “Heart Disease Can Hide in Plain Sight: Don’t Miss a Beat”, yang mengajak masyarakat untuk lebih mengenali tanda dan risiko penyakit kardiovaskular yang dapat terlewatkan. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) […]
Ekspor tekstil dan pakaian jadi (TPT) agar tepat sasaran, ada pun salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh
para pelaku Industri adalah dengan
menentukan produk dan kualifikasi produk yang tepat. Ini tak lepas dari,
pemenuhan persyaratan dan mekanisme yang
diberlakukan oleh Negara tujuan ekspor.
Menariknya, para pelaku Industri TPT, di
samping perlu memetakan Negara tujuan
ekspor, sekaligus membuka Negara tujuan
baru.
Demikian dikatakan oleh Ekonom Affan Alamudi, MSc., dalam diskusi online terkait industri TPT, Selasa (12/1/2021). Lanjutnya,”Maka kalau ditanya, apakah Indonesia bisa bersaing di pasar global, saya jawab bisa. Karena begitu banyak Negara yang masih membutuhkan produk TPT Indonesia, dan juga tentu selama Indonesia bisa memenuhi apa demand mereka.
Affan Alamudi, MSc.,
Tercatat, Negara-Negara yang yang masih membutuhkan produk TPT Indonesia,
bukan hanya Timur Tengah. Tapi ada Eropa Timur dan Eropa Barat, Afrika dan
Amerika Latin. “Maka penting di sini, pelaku industri bisa membuka komunikasi dengan
Negara-Negara tersebut, baik dengan
sistim B2B atau B2G,” ucap Affan Alamudi, dan mencontohkan Uzbekistan yang membutuhkan pasokan produk
pakaian Muslim.
“Tapi mereka kesulitan menemukan supplier dari Indonesia, yang tentu juga mampu konsisten pada waktu, jumlah dan kualitas. Jadi di sini, pelaku Industri Indonesia harus melihat kemampuan. Bila tidak, pihak pembeli kecewa dan tidak akan mengambil lagi dari Indonesia,” urai Affan Alamudi yang juga menyebutkan pelaku Industri juga harus bisa melihat kualifikasi dari Negara tujuan.
Secara umum, lanjutnya, adapun kendala yang
dihadapi para pelaku Industri TPT Indonesia adalah terkait harga produk mahal,
kualitas dan bahasa. “Harga produk yang mahal, bisa disebabkan karena biaya tenaga kerja,
biaya bahan baku dan biaya listrik. Sementara untuk kualitas, biasanya berasal
dari sarana produksi yang sudah tua sehingga menimbulkan keraguan pada buyer apakah produsen mampu memenuhi
biaya produksi,” paparnya.
Selain itu, ada juga tantangan dari penerapan
Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) atau safeguard
dari Negara tujuan.
“Jadi, untuk melakukan ekspor produk, jangan hanya bergantung pada Pemerintah. Tapi coba pelaku Industri coba dulu. Kalau memang ada yang membutuhkan bantuan Pemerintah, bisa dibicarakan. Terutama untuk masalah regulasi Negara tujuan,” ucapnya.
Elis Masitoh
Direktur Industri Tekstil Kulit dan Alas Kaki
Kementerian Perindustrian Elis Masitoh
menyatakan bahwa ekspor pakaian jadi mengambil porsi terbesar dalam ekspor TPT,
yaitu 3,27 persen. Baru diikuti oleh tekstil sebesar 2,57 persen.
“Pada tahun 2010, 5 Negara tujuan
terbesar kita itu secara berurut adalah Amerika, Jerman, Jepang, Korea
dan Inggeris. Dan pada 2020, susunannya berubah menjadi Amerika, Jepang, China,
Korea dan Jerman. Ini harus dilihat kenapa, dan . apakah ada yang menggantikan
kita sebagai supplier atau produk
kita tidak cocok atau terhambat regulasi,” kata Elis dalam kesempatan yang
sama.
Ia mengakui, akibat pandemi COVID 19 telah terjadi beberapa penurunan pada sektor ekspor
TPT. Elis Masitoh memaparkan,”Dari sektor Fiber dan Filamen, ada
penurunan 23,2 persen pada periode Januari hingga Juli. Benang dan kain menurun
24 persen pada periode Januari hingga Mei. Industri pakaian jadi mengalami
penurunan ekspor 14,5 persen pada periode Januari hingga Mei. Dan IIndustri non woven menurun ekspornya 1,2 persen
pada periode Januari hingga Mei.
Tapi pada Triwulan III 2020, sudah mengalami
perbaikan, dengan mencatat kenaikan 11,69 poin menjadi -8,37 persen.
“Untuk mengembalikan dan meningkatkan
ekspor ini, perlu dilakukan peningkatan kapasitas dan kapabilitas industri
eksisting. Baik melalui investasi baru, penguatan supply chain mau pun dengan melakukan peningkatan kapasitas dan
kerja sama luar negeri melalui optimalisasi perjanjian perdagangan,”
pungkasnya.
KolaborasiTehbotol Sosroi dengan brand lokal di #LocalsUnite, digelar forum diskusi, dan mengajak brand-brand lokal untuk giat menggali potensi, menciptakan karya yang ikonik, untuk menyiapkan diri menjadi brand ikonik kebanggaan Indonesia selanjutnya. “#LocalsUnite adalah sebuah wadah bagi brand-brand lokal dan para kreator untuk berkolaborasi dan memamerkan produk-produk mereka. Tentu membanggakan bisa berbagi hasil kerjasama dengan empat […]
Perempuan memiliki peran, semangat dan potensi yang sangat besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja di masa mendatang, itu tidak bisa dipungkiri. Sementara, penelitian dari International Finance Corporation World Bank Group memaparkan bahwa 80% UMKM yang dimiliki perempuan belum memiliki akses pendanaan dari perbankan karena prosedur yang dianggap memberatkan. Selain itu, Survei Nasional […]
Masa pandemi dinyatakan telah menurunkan daya beli masyarakat. Tapi bukan berarti pelaku Indutri Menengah Kecil (IKM), tidak dapat menyalurka produknya. Karena selain pasar ekspor, ada pasar belanja Pemerintah yang dapat disasar oleh para pelaku IKM. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih, S.Teks, MA, dalam acara online dari Kemenperin […]