Didirikan dan hadir di tengah masyarakat Tanah Air, pada 17 April 1977 oleh 17 tokoh masyarakat, Yayasan Kanker Indonesia (YKI), organisasi nirlaba yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan dengan fokus pada penanggulangan kanker, telah berkembang menjadi salah satu organisasi nirlaba terdepan dalam penanggulangan kanker di Indonesia. Yang fokusnya tidak hanya pada pengobatan, tetapi juga […]
Penyakit Diabetes umumnya terjadi pada orang dewasa, namun saat ini, diabetes menjadi salah satu risiko kesehatan yang patut diwaspadai karena dapat terjadi pada anak-anak dan remaja.
Maka, bersegeralah para orangtua mencermati.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan, kasus diabetes mellitus tipe-1 (DM tipe-1) pada anak meningkat 70 kali lipat sejak tahun 2010 hingga 2023. Peningkatan kasus ini dinilai memprihatinkan, akibat minimnya pemahaman terkait skrining, deteksi, pencegahan dini, dan penanganannya.
Terdapat dua kategori diabetes yang umumnya dijumpai, yaitu diabetes mellitus tipe 1 (DM tipe-1), diabetes mellitus tipe 2 (DM tipe-2), dan tipe lain-lain. DM tipe-1 disebabkan genetik dan autoimun yang bisa terjadi pada anak karena salah satu atau kedua orangtua memiliki diabetes. Sedangkan, DM tipe-2 biasanya terjadi akibat gaya hidup yang tidak sehat, berat badan yang berlebihan, dan kurangnya aktivitas fisik yang biasanya terdiagnosis pada usia pubertas atau lebih dewasa.
Peran orangtua sangat penting dalam memerhatikan kondisi kesehatan anak dengan mendeteksi gejala diabetes yang paling umum, seperti Poliuri (meningkatnya frekuensi buang air kecil dengan volume banyak); Polidipsi (lebih sering merasakan haus dan ingin minum sebanyak-banyaknya), dan Polifagi (meningkatnya nafsu makan namun tidak disertai stamina).
Diabetes Bukan Penyakit Menular, Namun …..
Walau pun diabetes bukan penyakit menular, namun penyakit ini dapat mengakibatkan berbagai komplikasi dan gangguan pada tubuh kembang anak.
Menyadari permasalahan tersebut, PT Prodia Widyahusada Tbk. (Kode Saham: PRDA) menyelenggarakan media workshop bertema “Cegah Diabetes Prematur pada Anak dan Remaja” untuk membagikan informasi terkait diabetes agar semakin banyak masyarakat teredukasi dan melakukan tindakan pencegahan diabetes prematur.
Dewi Muliaty – Direktur Utama Prodia
Kegiatan ini dihadiri oleh Dewi Muliaty – Direktur Utama Prodia, Indriyanti Rafi Sukmawati – Direktur Business & Marketing Prodia, dr. Muhammad Fahrisal Arief – Plt. Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular, Kesehatan Jiwa, dan NAPZA Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Prof. Aman B. Pulungan, MD, Ph.D, Sp.A(K), FAAP, FRCPI (Hon.) – Executive Director of International Pediatric Association, dan Matthew Justyn S.Si, Product Specialist Prodia.
“Seperti yang kita ketahui, diabetes biasanya terjadi pada orang berusia 40 tahun ke atas, namun beberapa tahun kebelakang ditemukan banyak kasus yang terjadi pada anak dan remaja, yaitu sedang dalam masa pertumbuhan, serta cenderung memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan manis dan tidak bernutrisi. Tentunya, kecenderungan peningkatan kasus ini menjadi kekhawatiran Nasional sehingga edukasi berkala pencegahan diabetes prematur pada anak-anak dan remaja perlu dilakukan,” ujar Dewi Muliaty.
“Sebagai bentuk komitmen dan kontribusi dalam menjaga kesehatan Nasional, kami berharap rekan media dapat turut membantu menyebarluaskan informasi pencegahan dan penanganan diabetes di masyarakat dari narasumber yang tepat,” sambungnya.
Pada kesemapatan itu, Prof. Aman B. Pulungan mengatakan, banyak orangtua tidak menyadari bahwa pemeriksaan kesehatan dibutuhkan untuk mencegah terjadinya risiko kesehatan anak termasuk diabetes.
“Berdasarkan data global, rata-rata usia anak yang terkena diabetes mellitus yaitu sekitar lima hingga sembilan tahun dan 10 hingga 14 tahun. Namun tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada usia di luar itu. Untuk menghindari risiko terburuk, gejalanya perlu dideteksi sejak dini,” jelasnya.
Ia menambahkan,pengelolaan diabetes pada anak dan remaja sebenarnya sudah lama digaungkan melalui langkah kontrol glikemik dan kontrol metabolik, namun sayangnya jumlah tenaga ahli dan kesadaran masyarakat terkait diabetes mellitus masih tergolong rendah.
“Jangan tunggu sakit dulu. Lebih pekalah mengenai kesehatan anak, periksakan kesehatan, serta sediakan lingkungan dan makanan sehat untuk anak. Perhatikan kandungan gula yang dikonsumsi, jangan melebihi anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),” tandasnya.
Indriyanti Rafi Sukmawati, Direktur Business & Marketing Prodia menyampaikan harapan agar kegiatan edukasi, ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya langkah preventif diabetes mellitus agar tidak terjadi pada anak-anak mereka.
”Media workshop, ini adalah bentuk komitmen Prodia yang telah 50 tahun mengiringi masyarakat Indonesia melangkah lebih jauh mencapai tujuan kesehatan bagi diri dan keluarga,” tutupnya.
Oleh : dr. Michael ReoMedical Manager PT Darya-Varia Laboratoria Tbk Terlebih, dalam kondisi pandemi yang sedang kita hadapi bersama saat, ini agar kesehatan tubuh tetap terjaga, perlunya berbagai cara untuk meningkatkan imunitas tubuh. Berbagai penyesuaian terhadap gaya hidup, asupan makanan bernutrisi tepat dan juga perlunya berbagai macam suplemen sudah menjadi kebiasaan baru dalam menjalani […]
Jakarta, 12 Agustus 2018 – Kondisi kulit bayi saat baru lahir belum berkembang dan berfungsi sempurna. Namun seiring pertumbuannya, kulit bayi lahir akan mengalami perubahan alamiah secara perlahan. Tak jarang ditemui, bayi menderita gangguan kulit. Ruam ASI, ruam popok, iritasi d an kemerahan umum terjadi karena kulit bayi lebih sensitif dan rentan terhadap lingkungan sekitarnya. […]
Mengantisipasi perubahan iklim dengan gaya hidup higienis, PT Unilever Indonesia, Tbk. kembali menggelar Indonesia Hygiene Forum (IHF) yang kali ini memasuki kali pelaksanaan kesepuluh. Sebagai forum yang menjembatani kolaborasi antara seluruh pihak yang terkait dalam Kesehatan dan higienitas, IHF berkomitmen memberikan edukasi mengenai pentingnya hidup bersih dan higienis melalui topik-topik yang relevan dengan kondisi terkini. […]