Terbilang banyak yang masih memandang golf sebagai olahraga eksklusif yang ribet dan mahal. Karena, di label “rich man’s sport” butuh tas, strik, sepatu khusus, serta antrean biaya untuk keanggotaan atau sewa lapangan. Padahal, layaknya olahraga santai populer lainnya seperti biliar atau bowling, yang di akhir pekan atau sore bisa dijadikan hiburan ringan dengan biaya relatif […]
Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik yang sifatnya kronis dan potensial mengganggu tumbuh kembang anak. Pada anak dikenal dua jenis diabetes yang paling banyak dijumpai, yaitu DM tipe-1 dengan jumlah kadar insulin rendah akibat kerusakan sel beta pankreas, dan DM tipe-2 yang disebabkan oleh resistensi insulin, di mana level insulin dalam darah normal.
Ada pun faktor utama penyebab DM tipe-1 adalah faktor genetik dan autoimun. Sedangkan pada DM tipe-2 biasanya disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat dan kegemukan.
Kasus DM tipe-1 pada anak pun meningkat sebanyak 70 kali lipat sejak tahun 2010 hingga 2023. Pada tahun 2010 prevalensi kasus diabetes mellitus terhadap anak di Indonesia hanya 0,028 per 100 ribu jiwa. Kemudian, pada tahun 2023 prevalensi kasus diabetes mellitus menjadi 2 per 100 ribu jiwa.
Kasus-kasus DM tipe-1 pada anak tersebut disumbangkan oleh 13 kota seperti Manado, Surabaya, Jakarta, Medan, Padang, Palembang, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Malang, Denpasar, dan Makassar dengan jumlah kasus paling tinggi di Jakarta dan Surabaya.
Gejala Diabetes Pada Anak :
● Banyak makan. Anak dengan DM akan merasakan lapar terus-menerus meski baru selesai makan. Rasa lapar ini didorong oleh jumlah insulin yang tidak memadai sehingga gula tidak dapat diolah menjadi energi;
● Banyak minum. Anak akan merasa haus terus-menerus karena ketidakmampuan tubuh memproduksi hormon insulin sehingga tubuh mengalami dehidrasi;
● Banyak kencing dan mengompol. Rasa haus yang menyebabkan anak selalu minum tidak diimbangi dengan kemampuan tubuh untuk menyerap cairan dengan baik. Anak dengan DM akan lebih sering buang air kecil dari pada frekuensi normal, terutama di malam hari.
● Penurunan berat badan yang drastis dalam 2-6 minggu sebelum terdiagnosis. Meski anak sering minta makan, tetapi tubuhnya tidak bertambah gemuk, melainkan cenderung kehilangan berat badan dalam jumlah yang cukup signifikan. Hal ini diakibatkan oleh ketidakmampuan tubuh dalam menyerap gula darah dalam tubuh sehingga menyebabkan jaringan otot dan lemak menyusut;
● Kelelahan dan mudah marah. Tubuh anak yang tidak mampu menyerap gula dari makanan membuatnya kekurangan energi sehingga mudah merasa lelah. Anak juga akan mengalami gangguan perilaku dan perubahan emosi menjadi cepat marah dan murung;
● Tanda kedaruratan lainnya yang perlu diwaspadai, antara lain sesak napas, dehidrasi, syok dan napas berbau keton
Penyebab Diabetes Tipe–1
Diabetes disebabkan karena adanya kegagalan gula darah masuk ke dalam sel untuk diproses sebagai energi yang diakibatkan ketidakmampuan pankreas memproduksi hormon insulin.
Penyebab DM tipe-1 adalah interaksi dari banyak faktor antara lain, kecenderungan genetik, faktor lingkungan, dan sistem imun. Berbeda dengan DM tipe-1, DM tipe-2 sangat erat kaitannya dengan gaya hidup tidak sehat seperti berat badan berlebih, obesitas, kurang aktivitas fisik, hipertensi, dislipidemia, dan diet tidak sehat / tidak seimbang. Dari Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan angka kejadian faktor risiko DM tipe-2 yaitu sebesar 18,8% anak usia 5-12 tahun mengalami kelebihan berat badan dan 10,8% menderita obesitas.
Pencegahan Diabetes Tipe-2
1. Mempertahankan berat badan ideal. Jika anak memiliki berat badan berlebih, maka upayakan untuk menguranginya sekitar 5-10% untuk mengurangi risiko. Diet kalori dan rendah lemak sangat dianjurkan sebagai cara terbaik menurunkan berat badan dan mencegah DM tipe-2.
2. Perbanyak makan buah dan sayur. Dengan mengonsumsi berbagai macam buah dan sayur setiap hari, maka risiko DM tipe-2 dapat berkurang.
3. Kurangi minum minuman manis dan bersoda.
4. Aktif berolahraga. Upayakan untuk berolahraga setidaknya 30 menit dalam sehari untuk mencapai berat badan ideal dan menekan tingginya risiko DM tipe-2. Selain itu berolahraga juga bisa menurunkan kadar gula darah dan meningkatkan kadar insulin.
5. Batasi waktu penggunaan gadget
Peran Orang Tua Dalam Pencegahan Diabetes Pada Anak
Diabetes merupakan penyakit tidak menular yang tidak dapat disembuhkan. Namun dengan kontrol metabolik yang baik, anak dapat tumbuh dan berkembang selayaknya anak sehat lainnya.
Kontrol metabolik yang dimaksud adalah mengupayakan kadar gula darah dalam batas normal atau mendekati nilai normal tanpa menyebabkan anak malah menjadi kekurangan glukosa dalam darah. Pengelolaan dilakukan antara lain dengan pemberian tatalaksana yang sesuai baik insulin mau pun obat-obatan, pengaturan makan, olahraga, dan edukasi, serta pemantauan gula darah secara mandiri.
Untuk mencapai kontrol metabolik yang optimal ini dibutuhkan penanganan yang menyeluruh baik oleh keluarga, ahli endokrinologi anak atau Dokter anak, ahli gizi, ahli Psikiatri, Psikologi anak, pekerja sosial, dan edukator.
Dihantarkan oleh :
Prof. Aman B. Pulungan, MD, Ph.D, Sp.A(K), FAAP, RCPI (Hon.), merupakan seorang Dokter Spesialis Anak Konsultan Endokrinologi, yang menyelesaikan pendidikan Spesialis Anak di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Prof. Aman B. Pulungan, MD, Ph.D, Sp.A(K), FAAP, FRCPI (Hon.) aktif mengikuti berbagai program seminar dan workshop baik tingkat Nasional dan Internasional, antara lain menjadi Project Leader World Diabetes Foundation – DM type 1, ini juga menjadi anggota Dewan Penasehat Physician International Society for Pediatric and Adolescent Diabetes.
Penggagas berdirinya IKADAR, suatu organisasi yang anggotanya terdiri dari pasien dan keluarga penderita DM tipe-1, Dokter serta educator, juga mempunyai peran penting dalam pembentukan forum Keluarga dengan Hiperplasia Adrenal Kongenital (KAHAKI), Forum Keluarga Osetogenesis Imperfekta (FOSTEO) dan Turner Society Indonesia (TSI)
Berpraktik di RS Pondok Indah (RSPI) – Pondok Indah di Jakarta Selatan, Prof. Aman B. Pulungan, MD, Ph.D, Sp.A(K), FAAP, FRCPI (Hon.) yang juga praktik di Klinik AP&AP Pediatric, Growth, and Diabetes Center, merupakan Executive Director of International Pediatric Association dan juga Project Leader Changing Diabetes in Children (CDiC) Indonesia
Pentingnya bermain bagi tumbuh kembang anak-anak secara kognitif, dalam gerakan motoriknya, maupun dalam melatih kepemimpinan sejak dini, menjadi perhatian khusus IKEA, penyedia produk perabot rumah tangga berkualitas tinggi dan terdepan. Terkait itu juga kiranya, IKEA Indonesia — dikelola di bawah lisensi PT Hero Supermarket Group Tbk. –, melalui IKEA Foundation, memiliki sebuah inisiatif yang berbeda […]
Salah satu penyakit invasive yang menyerang paru-paru, Pneumonia, memiliki konsekuensi jangka panjang bagi penderitanya, termasuk menurunnya fungsi kognitif, komplikasi atau kerusakan organ dalam lainnya, dan kerusakan paru. Pneumonia bisa disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur. Bakteri Streptococcus pneumoniae adalah bakteri yang menyerang saluran nafas dan menyebabkan Pneumonia. Penyakit ini terbentuk dari infeksi akut dari daerah saluran pernapasan bagian […]
Tidak terlepas dari kasus kanker payudara yang terus meningkat. Dan dari melihat ada GLOBOCAN 2020 yang menyatakan terdapat 2.261.419 kasus baru kanker payudara dengan 684.996 kematian di seluruh dunia ; di 11 Negara Asia Tenggara terdapat 158.939 kasus baru kanker payudara dengan 58.616 kematian, sementara di Indonesia, terdapat 65.858 kasus baru kanker payudara dengan 22.430 […]