Terbilang banyak yang masih memandang golf sebagai olahraga eksklusif yang ribet dan mahal. Karena, di label “rich man’s sport” butuh tas, strik, sepatu khusus, serta antrean biaya untuk keanggotaan atau sewa lapangan. Padahal, layaknya olahraga santai populer lainnya seperti biliar atau bowling, yang di akhir pekan atau sore bisa dijadikan hiburan ringan dengan biaya relatif […]
Mengenai penyakit kanker tak lepas dari kian waktu sudah semakin menjadi perhatian kita semua. Terlebih, penyakit ini tak terelakan menyentuh dan dapat dialami oleh berbagai kalangan, dari mulai usia kanak hingga usia lanjut. Maka betapa pentingnya mengenal lebih dekat dan lebih jauh mengenai penyakit kanker dan mendeteksi sejak dini.
Maka sebaiknya disimak data GLOBOCAN 2022 menyebut, di Indonesia terjadi 408.661 kasus baru kanker dan 242,988 jumlah kematian, dengan jumlah kasus prevalensi lima tahun sebanyak 1.018.110 kasus. Tiga jenis kejadian kanker tertinggi di Indonesia adalah kanker payudara (66.271 kasus), kanker paru (38.904 kasus) dan kanker serviks (36.964 kasus).
Rata-rata risiko terkena kanker sebelum usia 75 tahun atau kumulatif risiko pria dan wanita ada sebesar 14%, sedangkan risiko kematian akibat kanker sebelum usia 75 tahun atau kumulatif risiko sebesar 8,8%. Tiga jenis kanker penyebab kematian tertinggi adalah kanker paru (34.339 kasus), kanker hati (23.383 kasus) dan kanker payudara (22.598 kasus).
Menanggapi data ini, terkait dalam rangka “Hari Kanker Sedunia 2025”, merupakan kesempatan untuk meningkatkan kesadaran dan mencegah kanker melalui diagnosis dini dan gaya hidup sehat, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) didukung oleh AstraZeneca Indonesia dan AQUA Indonesia menggelar talkshow bertajuk “Kanker Tidak Menunggu, Kenapa Kita Menunggu? Deteksi Dini, Selamatkan Hidup”, yang membahas akan pentingnya diagnosis kanker dini, penerapan hidup sehat dalam mencegah dan mengobati kanker.
Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo
Acara talkshow, bertempat di Grand Sahid Jaya Hotel, Candi Singosari Ballroom, Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP, mengatakan, “Sebagai penyakit tidak menular yang paling umum dan berdampak besar pada masyarakat, kanker dapat dicegah dan disembuhkan jika ditemukan pada stadium awal. Oleh sebab itu, deteksi dini sangatlah penting sebab dapat meningkatkan kesempatan hidup dan mengurangi risiko kematian jika ditemukan pada stadium lanjut.”
“Dan setiap stadium akan membutuhkan perawatan dan pengobatan yang semakin rumit meski adanya teknologi terkini dalam perawatan,” katanya.
Dalam acara yang dipandu Luki Arti, YKI, menghadirkan Esra Erkomay selaku Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia dan Ibu Widya Adelin, penyintas kanker dari Komunitas Penyintas Kanker YKI, tentu menawan menyimak kata sambutan dr. Siti Nadia Tarnizi, M.Epid Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI. Dikatakan, bahwa deteksi dini kanker adalah bagian terpenting, agar dapat diketahui lebih awal sehingga bisa segera ditangani. Namun sebagian masyrakat dilanda rasa kekhawatiran terhadap hasil tes karenanya membuat sebagian masyarakat ragu hingga enggan mendeteksi dini kanker.
Terkait hal itu juga, dr. Siti Nadia Tarnizi mengajak penyintas kanker untuk lebih luas menyebarluaskan upaya pentingnya deteksi dini ke tengah masyarakat. Dan dalam upaya menyebarluaskan edukasi tentang pentingnya dateksi dini, Kemenkes RI tidak sebatas melibatkan penyintas kanker, juga aktif menggandeng pihak-pihak, di antaranya Yayasan hingga Media.
Sementara itu, juga sangat menawan dengan apa yang disampaikan Esra Erkomay selaku Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, bahwa selama lebih dari 54 tahun, AstraZeneca Indonesia — Perusahaan biofarmasi global — senantiasa berkomitmen untuk memimpin revolusi dalam onkologi dan mendefinisikan ulang perawatan kanker.
“Kami mendorong berbagai batasan dalam ilmu pengetahuan untuk memahami kanker dan kompleksitasnya, serta menemukan dan menyediakan berbagai obat dan solusi inovatif. Kami juga terus berupaya untuk meningkatkan kelangsungan hidup para pejuang kanker, berinovasi untuk terapi target yang ada dan baru, serta mengubah cara kanker didiagnosis dan diobati. Kami sadar bahwa jika diagnosis dini dikombinasikan dengan pengobatan inovatif yang tepat, dapat secara signifikan meningkatkan hasil dan kualitas hidup pasien. Melalui kolaborasi lintas sektor, kita dapat menghilangkan kanker sebagai penyebab kematian,” katanya.
Diagnosis Dini Penting
Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FINASIM, FACP, menjelaskan, “Diagnosis kanker dini sangat penting karena dapat meningkatkan kesempatan hidup dan mengurangi risiko kematian akibat kanker, diawali dengan penentuan tahap kanker dan memilih pengobatan yang tepat. Teknologi seperti mammografi, ultrasonografi, dan MRI dapat membantu dokter mendeteksi kanker pada tahap awal.”
Selain itu, Prof. Aru juga menjelaskan bahwa gejala-gejala awal kanker seperti perubahan pada bentuk fisik bagian tertentu, perdarahan tidak normal, dan penurunan berat badan secara tidak normal perlu diperhatikan. “Pemeriksaan kesehatan rutin juga sangat penting untuk mendeteksi kanker pada tahap awal,” jelas Prof. Aru.
Dalam menjelaskan tentang “Tahapan Kanker dan Perkembangan Pengobatan Kanker, Prof. Aru mengatakan bahwa tahap-tahap kanker ditentukan berdasarkan ukuran tumor, penyebaran kanker ke kelenjar getah bening, dan penyebaran kanker ke bagian tubuh lainnya. “Pengobatan kanker dapat disesuaikan dengan jenis kanker dan kondisi pasien,” ungkap Prof. Aru.
Prof. Aru juga menerangkan bahwa penyebaran kanker (metastasis) dapat mempengaruhi tahap kanker dan pengobatan yang diperlukan. “Pengobatan kanker dapat melibatkan operasi, kemoterapi, radioterapi, dan terapi target,” kata Prof. Aru.
Kehadiran Ibu Widya Adelin, penyintas kanker dari Komunitas Penyintas Kanker YKI, kian mewarnai keindahan acara yang dihadiri sejumlah penyintas kanker, pun berbagi pengalaman tentang bagaimana ia memutuskan untuk melakukan diagnosis kanker dan menghadapi hasil diagnosis kanker. “Saya sangat bersyukur karena melakukan diagnosis kanker dini, sehingga saya dapat mendapatkan pengobatan yang tepat dan kesempatan hidup yang lebih baik,” kata Ibu Widya Adelin, 59 tahun.
Untuk itu, Yayasan Kanker Indonesia terus mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya diagnosis kanker dini dan gaya hidup sehat dalam mencegah dan mengobati kanker. “Mari kita berjuang bersama untuk meningkatkan kesadaran dan mencegah kanker,” tutup Prof. Aru.
[]Andriza Hamzah Photo : Dok. YKI/Emerson Asia Pacific
Keterangan Photo Utama : ki-ka dr. Siti Nadia Tarnizi – Ibu Widya Adelin – Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo – Esra Erkomay
Jakarta, 14 Mei 2018 – Ada berbagai macam posisi seks namun Stylishion (Anda) dapat memilih posisi terbaik mana yang paling Anda sukai dan nikmati. Sebagaimana Kama Sutra – buku India kuno yang membahas tentang seksualitas – menunjukkan kepada kita, aktivitas seksual adalah pencarian variasi gaya yang tak terbatas. Jika Anda berada dalam hubungan heteroseksual, mengetahui berbagai […]
Rexona produksi PT Unilever Indonesia Tbk. membawa pria Indonesia lebih dekat dengan mimpinya. Seperti yang juga disampaikan oleh Anggya Kumala, Senior Brand Manager Rexona Deodorant PT Unilever Indonesia Tbk., di acara Rexona Ajak Pria Indonesia Aktif Bergerak Wujudkan Mimpi Lewat “Manchester City Trophy Tour 2019”, bertempat di Hallf Patiunus – Jakarta Selatan, pada 17 Oktober […]
Hemofilia merupakan penyakit gangguan perdarahan, di mana darah sulit membeku dengan baik. Penderita hemophilia memiliki risiko penrdarahan berlebihan, bahkan luka dari kecil sekali pun. Kian menjadi perhatian. Berdasarkan data dari World Federation of Hemapholia dalam Report on the Annual Global Surey 2021, hingga tahun 2021, Indonesia mencatat 2.939 pasien hemafolia. Berpijak dari sanalah, dan dalam upaya […]