Belanja praktis dan mudah, tiada lepas dan seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat akan pengalaman belanja yang lebih fleksibel dan relevan dengan kebiasaan digital. Berpijak dari sana, IKEA — rangkaian produk perabot rumah tangga yang fungsional, didesain dengan baik, dengan harga terjangkau — melalui kemitraan strategis dengan Shopee, memperluas akses produk perabot rumah tangga dan dekorasi rumah […]
Untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap faktor-faktor resiko kanker kolorektal, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) bekerjasama dengan PT Merck Tbk (Merck Indonesia) memperkenalkan kampanye #PERIKSA yaitu “Peduli Risiko Kanker Kolorektal Sejak Awal”, merupakan kampanye bertujuan untuk mengajak masyarakat agar lebih peduli dalam mengenali tanda atau gejala awal yang berkaitan dengan resiko kanker kolorektal dengan melakukan deteksi dini secara daring.
“Kuesioner #PERIKSA ini dapat membantu masyarakat tentang pemahaman faktor resiko kanker kolorektal,” jelas Prof. Aru Sudoyo.
Tentu yang patut diperhatikan, ada banyak faktor resiko kanker kolorektal yang perlu diwaspadai, selain riwayat keluarga, juga kebiasaan diet rendah serat namun tinggi lemak; gejala lainnya termasuk pendarahan saat buang air besar, kelelahan, dan kelemahan, serta terpapar terhadap polusi udara dan air, khususnya zat karsinogen penyebab kanker, kuesioner #PERIKSA ini dapat membantu masyarakat tentang pemahaman faktor risiko kanker kolorektal, menjelaskan Prof. Aru Sudoyo.
“Jika faktor resiko kanker kolorektal tersebut merupakan pola hidup yang dijalankan, maka tes skrining di antaranya melalui kolonoskopi penting untuk dilakukan, khususnya bagi orang berusia di atas 50 tahun,” ungkap Prof. Aru Sudoyo
Prof. Aru Sudoyo lebih lanjut mengutarakan bahwa kanker kolorektal biasanya dimulai sebagai pertumbuhan seperti kancing di permukaan lapisan usus atau dubur yang disebut polip. Saat kanker tumbuh, ia mulai menyerang dinding usus atau rektum. Kelenjar getah bening di dekatnya juga dapat diserang. Karena darah dari dinding usus dan sebagian besar rektum dibawa ke hati, kanker kolorektal dapat menyebar ke hati setelah menyebar ke kelenjar getah bening di dekatnya.
Prof. Aru Sudoyo mengingatkan tentang pentingnya kewaspadaan terhadap sindrom Lynch dan sindrom poliposisMUTYH. Sindrom Lynch berasal dari mutasi gen bawaan yang menyebabkan kanker kolorektal pada 70 hingga 80% orang dengan mutasi tersebut. Orang dengan sindrom Lynch sering berkembang menjadi kanker kolorektal sebelum usia 50 tahun. Mereka juga beresiko lebih tinggi terkena kanker jenis lain, terutama kanker endometrium dan kanker ovarium, tetapi juga kanker perut dan kanker usus kecil, saluran empedu, ginjal, dan ureter.
Sindrom poliposis MUTYH adalah kelainan genetik langka yang jarang menyebabkan kanker kolorektal. Hal ini disebabkan oleh mutasi genetik dari gen MUTYH. Lebih dari 50% orang yang memiliki sindrom, ini mengembangkan kanker kolorektal mulai usia 60-an. Mereka juga beresiko lebih tinggi terkena kanker jenis lain, seperti kanker saluran pencernaan dan tulang lainnya, dan juga kanker ovarium, kandung kemih, tiroid, dan kulit.
Pengobatan Kanker Kolorektal
Prof. Aru Sudoyo menjelaskan tentang beberapa opsi pengobatan kanker kolorektal yaitu Operasi, Kemoterapi, Terapi Radiasi, Terapi Target, dan Imunoterapi kanker kolorektal, disesuaikan dengan kondisi dan lokasi kanker kolorektal.
Seiring dengan kemajuan penanganan kanker kolorektal di Indonesia, khususnya dengan tersedianya terapi target dan pemeriksaan status penanda tumor RAS, diharapkan angka kematian karena kanker kolorektal dapat terus berkurang. Dengan pilihan metode pengobatan personalized treatment membantu menegakkan diagnosis yang lebih akurat, memungkinkan pemberian obat yang tepat sehingga akan meminimalisir efek samping dan meningkatkan keberhasilan pengobatan dan kesembuhan.
Perawatan Paliatif
Jika kanker kolorektal telah memasuki stadium IV dan berkembang ke banyak organ dan jaringan yang jauh, Prof. Aru Sudoyo menjelaskan bahwa pembedahan mungkin tidak membantu memperpanjang umur seseorang. Pilihan pengobatan lain dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan dapat menghasilkan gejala tambahan yang membuat kualitas hidup seseorang menjadi lebih buruk.
“Dalam kasus, ini orang mungkin memutuskan untuk tidak melakukan perawatan medis yang berupaya menyembuhkan kanker dan sebagai gantinya memilih perawatan paliatif untuk mencoba membuat hidup lebih nyaman. Perawatan paliatif biasanya akan melibatkan menemukan cara untuk mengelola rasa sakit dan mengurangi gejala seseorang sehingga mereka dapat hidup dengan nyaman selama mungkin,” ujar Prof. Aru Sudoyo.
Menimbang panjangnya proses penyembuhan kanker kolorektal, Prof. Aru Sudoyo, menghimbau kepada masyarakat untuk melakukan pencegahan kanker kolorektal sedini mungkin dengan berhenti merokok dan hindari alkohol, “Selain itu, lakukan skrining untuk kanker kolorektal, makan banyak sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian, berolahraga secara teratur dan kendalikan berat badan.”
“Kanker dapat disembuhkan jika dideteksi dan dirawat pada stadium awal, maka ingat #PERIKSA dengan meningkatkan kepedulian terhadap resiko kanker kolorektal sejak awal,” tutup Prof. Aru Sudoyo.
Untuk mengatasi tantangan kesehatan mental, sekaligus memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2022, Emotional Health For All (EHFA) bekerja sama dengan Yayasan Kesehatan Umum Kristen (YAKKUM) dan Black Dog Institute melaksanakan ‘Deklarasi Relio-Mental Health Indonesia’. Diselenggarakannya ‘Deklarasi Relio-Mental Health Indonesia’, dituturkan oleh Dr. Sandersan (Sandy) Onie, Project Leader & Founder, EHFA dan President Indonesian Association for […]
Untuk mengurangi emisi karbon dan sebagai bentuk komitmen untuk masa depan keberlanjutan, Perusahaan marketing services network terintegrasi di Tanah Air, Dentsu Indonesia kembali menggelar “One Day for Change”. Tahun, ini One Day for Change berfokus kepada isu alam dan ekonomi sirkular . One Day for Change 2023 dilaksanakan oleh berbagai cabang dentsu di seluruh Negara, salah satunya […]
Tak lepas, dan berpijak pada wujud komitmen betapa pentingnya untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan jantung dan petingnya pemantauan kesehatan jantung secara rutin, agar lebih melekat di benak masyarakat luas, OMRON Healthcare Indonesia bekerjasama dengan Jakarta Heart Center (JHC), menyelenggarakan acara bertajuk ‘Heart-to-Heart Gathering: A Journey to Better Health’. Acara yang berlangsung pada Selasa, 12 November […]