Sebagai bagian dari upaya untuk mewujudkan kepedulian terhadap pemudik Idul Fitri 2025, Kalbe — PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) berdiri sejak tahun 1966 dan merupakan salah satu Perusahaan farmasi terbuka terbesar di Asia Tenggara — melalui Entrostop dan Promag menggelar Emergency STOOOOOP! dengan membagikan produk kesehatan pencernaan senilai lebih dari Rp 1 miliar di jalur […]
Belum lagi mencicipi cita rasa dari minuman
kopi, diawali aromanya yang menebar,
sudah menggugah selera. Apalagi ketika hirupan kopi melewati lidah, dipastikan
lidah bergoyang.
Tinggal lagi, kopi mana kah itu ?
Kali ini, menikmati kopi ternyata bukan hanya
sekedar menikmati kopi. Tapi berbicara tentang idealisme dan kepuasan. Hanya
saja, walau pun konsumsi kopi Nasional meningkat, tetapi masih banyak penikmat
kopi yang belum mendapatkan cita rasa sesungguhnya dari kopi asli Indonesia.
Sekali pun tercatat, konsumsi kopi Nasional
mencapai 249.800 ton pada tahun 2016, meningkat mencapai 314.400 ton pada tahun
2018 dan diprediksi peningkatan 15-20
persen, pada tahun 2021. Diperkirakan mencapai 370.000 ton.
Adalah Yopi Syahrizal, pemilik Kopyopi, menyebutkan kopi yang dikonsumsi masyarakat
saat ini mayoritas kopi pabrik yang sudah mengalami pencampuran bahan.
Lantas, ia pun menceritakan awalnya mendapatkan kopi murni,
yaitu saat ia melakukan coffee hunter di daerah Mentawai,
Sumatera Barat. Yopi Syahrizal lanjut berkisah,”Saya mulai minum kopi
sejak SD. Dari sana saya banyak
mencicipi berbagai kopi. Salah satunya, yang menurut saya enak adalah kopi
oplet, yang kemudian mulai berubah rasa.
Tidak murni lagi.Jadi saat ketika saya
mencoba kopi hutan yang di Mentawai itu, baru saya benar-benar merasakan
menemukan kopi murni,” urainya.
Setelah merasa cocok dengan kopi tersebut, Yopi mencoba untuk mengemas kopi dalam kemasan kecil dan melemparnya ke pasar sebagai bentuk testing product.
“Salah satunya di daerah Padasuka
Bandung. Dan mendapat tanggapan positif. Karena memang rasanya enak dan bagi
penikmat kopi sejati, ya kopi itu adalah kopi
tanpa campuraucap alumnus HI Universitas Pasundan Bandung.
Ia mengakui, Kopyopi yang dijualnya bila
dilihat selintas lebih mahal jika
dibandingkan kopi sachet atau kopi merek lainnya.
Yopi, panggilan akrabnya, mulai menjual Kopyopidi akhir 2019, yang
ditujukan bagi penikmat kopi murni, penjualan sudah melebar hingga Hong Kong.
“Pembelinya adalah pemiliki gerai kopi.
Bahkan di antaranya minta izin untuk menggunakan nama kopiyopi sebagai nama
gerai mereka. Pembelian mereka memang reguler sebulan sekali, dan bisa penjualan
bisa mencapai 120 kg per bulan. Tapi karena COVID 19 ini, penjualan cukup menurun
drastis, rata-rata saat 20 kg per bulan,” paparnya.
Terkait kesediaan suplai, Yopi mengaku tidak
merasa khawatir. Apalagi takut tersaingi. Tak lepas dari, jumlah pohon kopi di
hutan yang banyak sekali. Apalagi saat musim hujan, buah kopi yang matang dan
jatuh ke tanah akan tumbuh menjadi pohon kopi baru. Dan pohon kopi yang lama kan
juga tidak rusak, paparnya lebih lanjut.
Untuk pengemasan, Yopi menyebutkan dirinya
hanya mencantumkan komposisi. Nanti kemurnian kopi akan dites langsung oleh
pembeli.
“Saya hanya berperan sebagai penyuplai
kopi. Untuk display kemasan itu
bergantung dari pembeli. Seperti, pembeli dari Hong Kong, mereka yang melakukan
tes di laboratorium dan mereka memberikan hasilnya untuk dicantumkan di
kemasan.,” ujarnya.
Potensi perkembangan kopi murni di Indonesia
sendiri, diakui Yopi agak berat. Hal ini disebabkan karena masyarakat Indonesia
belum memiliki idealisme dalam cita rasa. Tapi bukan berarti masyarakat
Indonesia juga tidak bisa bertransformasi menjadi market yang mengutamakan
cita rasa dan kepuasan.
“Untuk lebih meningkatkan pengetahuan
tentang kopi ini, saya sering melakukan tur edukasi tentang kopi. Menjelaskan
apa perbedaan kopi dan apa sih manfaatnya kopi murni,” ucap Yopi.
Aroma minuman kopi, tak bisa dimungkiri, di tengah masyrakat banyak — terlebih milenial, generasi muda keren terkini — terbilang lekat. Maka ketika cita rasa kopi sudah mengena, hingga mampu menggoyang lidah penikmat kopi, tak ayal, sarana ngopi tersebut bakal digandrungi dan bakal berulang didatangi karena dirindukan, Agar pelanggan kesulitan berpaling, tentu juga rangkaian menu yang […]
Kuliner Indonesia untuk mendunia kiranya tak bisa hanya dilakukan dengan membangun jaringan rumah makan Indonesia. Tapi harus lebih dengan pola infiltrasi yang lebih rendah biaya dan lebih menyesuaikan dengan bahan kuliner asli di Negara dituju. Pakar Kuliner Indonesia William Wongso menyatakan untuk memasuki kancah kuliner Indonesia tak bisa dilakukan dengan hanya membangun jaringan penyedia kuliner […]
Di tengah gempuran tren makanan modern, makanan tradisional selalu punya tempat tersendiri di hati masyarakat. Beragam kafe dan restoran dengan menu tradisional pun tak pernah sepi. Salah satunya kafe di Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Kafe Kawisari Cafe & Eatery, ini menghadirkan cerita dari perkebunan kopi tertua di Blitar sejak 1870. Menunya mirip ketika masyarakat merayakan […]