Kembali dan lagi, Frisian Flag Indonesia menggoreskan keindahan. Bertepatan memperingati World Milk Day (Hari Susu Sedunia) sekaligus Hari Susu Nusantara, Frisian Flag Indonesia (FFI) mengajak masyarakat menjadikan minum susu sebagai bagian dari kebiasaan sehat sehari-hari untuk mendukung kesehatan fisik dan mental keluarga Indonesia di setiap tahap kehidupan. Diperingati setiap tanggal 1 Juni, World Milk Day […]
Penyakit autoimun, merupakan suatu kondisi di mana sistem kekebalan tubuh atau sistem imun menyerang tubuh sendiri, ada ratusan jenisnya. Salah satu yang sering diperbincangkan adalah Inflammatory Bowel Disease (IBD) atau Radang Usus. IBD merupakan istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan kelainan yang berhubungan dengan peradangan pada saluran pencernaan atau gastrointestinal.
Guna mewaspadai penyakit autoimun IBD, MCF (Marisza Cardoba Foundation), organisasi nirlaba yang menjadi mitra Pemerintah untuk mengedukasi pentingnya penerapan pola hidup sehat sebagai upaya pencegahan autoimun dan meningkatkan kualitas kesehatan penderitanya, bersama Darya Varia Laboratoria mengelar webinar umum pada Hari Sabtu 11 September 2021 pukul 10.00 – 12.00 WIB melalui media Zoom dengan tema “Mengenal Inflammatory Bowel Disease (IBD) Pada Anak”.
Dewan Pakar Medis MCF, Prof.Dr.dr. Zakiudin Munatsir SPA(K) yang menjadi narasumber medis pada kegiatan webinar edukasi autoimun, menyampaikan, “IBD terdiri dari dua jenis penyakit yaitu Penyakit Crohn (PC) dan Kolitis Ulseratif (KU). KU adalah peradangan kronis pada lapisan terdalam usus besar atau kolon, sedangkan PC yang juga dikenal sebagai Crohn’s Disease, merupakan peradangan yang terjadi di seluruh sistem pencernaan, mulai dari mulut hingga ke dubur.”
Lebih lanjut Prof. Zakiudin Munatsir menjelaskan, “Pada orang dengan KU mau pun PC seringkali muncul bisul di saluran usus. Bisul adalah robekan atau robekan pada lapisan usus yang dapat menyebabkan rasa sakit atau perdarahan.”
Menurut dokter yang juga aktif membina belasan ribu Orang Dengan AutoImun (ODAI) di MCF, ini penyebab pasti terjadinya peradangan gastrointestinal tersebut belum diketahui, namun diduga terkait dengan gangguan sistem kekebalan tubuh. IBD pada anak dapat terjadi karena ada bakat genetik yang dicetuskan oleh faktor lingkungan misalnya infeksi dan lain-lain.
Prof. Zakiudin Munatsir memaparkan bahwa PC dan KU memiliki banyak gejala yang sama, mungkin sulit untuk mengetahui kondisi yang diderita seorang anak. Mendiagnosis penyakit ini memerlukan beberapa tes.
Orang tua tentu diharapkan lebih memerhatikan dan tanggap, agar si buah hati terhindar gangguan. Adalah yang pertama dilakukan, tes darah untuk memeriksa kondisi seperti anemia (hemoglobin rendah), protein darah rendah (albumin), atau bukti peradangan di suatu tempat di tubuh (peningkatan protein C-reaktif, tingkat sedimentasi/ laju endap darah, atau jumlah sel darah putih).
Tes kedua adalah adalah tes/studi tinja untuk memeriksa infeksi, darah dalam tinja, atau penanda peradangan di usus.
Tes ketiga dilakukan pencitraan kondisi perut dengan CT enterography (CTE) atau MR enterography (MRE) untuk mencari peradangan, pembengkakan atau penyempitan usus. Ini juga melihat area di perut di luar usus untuk komplikasi IBD.
Prof.Dr.dr. Zakiudin Munatsir SPA(K)
Sebuah MRE memiliki keuntungan yang menggunakan magnet, bukan radiasi, untuk mengambil gambar. Endoskopi bagian atas dan kolonoskopi penting untuk dilakukan, yakni dengan cara menelan atau menempatkan kapsul video selama endoskopi atas untuk melihat lapisan usus kecil dengan tabung fleksibel dan kamera, dilanjutkan dengan biopsi untuk memeriksa lebih lanjut sampel jaringan di bawah mikroskop.
“Pada kasus dengan gejala berat yang tidak kunjung membaik, dibutuhkan tindakan operasi sesuai dengan jenis radang yang dialami pasien, seperti proktokolektomi yaitu pengangkatan seluruh usus besar pada kasus KU berat, atau pengangkatan sebagian saluran pencernaan yang rusak pada kasus PC,” jelas Prof. Zaki.
Untuk mencegah terjadinya IBD pada anak, Prof. Zaki menekankan pentingnya menjaga pola hidup sehat, di antaranya:
1. Menerapkan pola makan gizi seimbang
Pilih sumber makanan sehat, bernutrisi utuh (minim proses), dan alami (bebas zat artifisial seperti pengawet, pewarna, penyedap, dan sebagainya), serta bebas gluten. Pasien IBD juga beresiko kekurangan vitamin dan mineral, termasuk zat besi, kalsium, vitamin D, vitamin B12, dan asam folat. Suplemen kalsium merupakan cara terbaik untuk mencegah penyakit tulang.
2. Rutin olah raga dan istirahat cukup
3. Komunikasi positif dan mendukung dalam keluarga
Anak dengan kasus IBD rentan mengalami stres psikososial yang signifikan, masalah emosional dan perilaku, serta perubahan gaya hidup yang tak terduga karena kekambuhan. Juga dapat terjadi kesulitan berinteraksi dengan teman sebaya dapat diakibatkan oleh ketidakhadiran di sekolah dan dapat diperparah oleh harga diri yang rendah karena pertumbuhan dan perkembangan yang tertunda . Oleh karena itu bertukar pikiran saling berbagi pengalaman buat mengatasi masalah ini sangat diperlukan selain mungkin harus konsultasi ke psikiater atau psikolog.
4. Bangun kebiasaan menulis jurnal harian
Kenali pencetus kekambuhan gejala IBD dengan mencatat semua kegiatan/asupan yang dirasakan nyaman atau tidak nyaman. Hindari yang menyebabkan timbul reaksi tidak nyaman.
5. Rutin berobat ke dokter
Kondisi kesehatan harus selalu terpantau. Jika terjadi infeksi harus diobati tuntas.
“Orang tua diharapkan memperhatikan dan berhati-hati jika anak-anak mengalami keluhan sakit perut disertai rasa mual dan kondisi fisik yang melemah guna mewaspadai terjadinya IBD pada anak dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang yang permanen,” tutup Prof. Zakiudin Munatsir.
Oleh : dr. Michael ReoMedical Manager PT Darya-Varia Laboratoria Tbk Terlebih, dalam kondisi pandemi yang sedang kita hadapi bersama saat, ini agar kesehatan tubuh tetap terjaga, perlunya berbagai cara untuk meningkatkan imunitas tubuh. Berbagai penyesuaian terhadap gaya hidup, asupan makanan bernutrisi tepat dan juga perlunya berbagai macam suplemen sudah menjadi kebiasaan baru dalam menjalani […]
Banyak pendapat umum yang menganggap varises tidak berbahaya. Yang sebenarnya, bila sudah memsuki stage tinggi, varises dapat menimbulkan komplikasi. Kenali dan waspadai ketika bagian kaki terlihat adanya tonjolan pembuluh darah. Terlebih para pekerja yang sering berdiri lama, varises adalah salah satu penyakit yang mengintip di kehidupannya. Maka — siapa pun — jika mengalami gejala varises, […]
Yayasan Kanker Indonesia Pusat (YKI), dan YKI Cabang Balikpapan pada 27-28 Oktober 2021 menggelar pelatihan deteksi dini leukimia dan kanker anak dengan peserta 80 Dokter umum dan Tenaga Analis. Gelar acara menawan YKI, organisasi nirlaba yang bersifat sosial dan kemanusiaan di bidang kesehatan, khususnya dalam upaya penanggulangan kanker, ini menyikapi kanker dapat menyerang siapa saja […]