Didirikan dan hadir di tengah masyarakat Tanah Air, pada 17 April 1977 oleh 17 tokoh masyarakat, Yayasan Kanker Indonesia (YKI), organisasi nirlaba yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan dengan fokus pada penanggulangan kanker, telah berkembang menjadi salah satu organisasi nirlaba terdepan dalam penanggulangan kanker di Indonesia. Yang fokusnya tidak hanya pada pengobatan, tetapi juga […]
Sulit untuk tidak mendengarkan dan menikmati lantunan musik mengiringi olah vokal pelantunnya dari vokal grup Ekantika, melalui lagu Blooming Flowers.
Grup musik beranggotakan pelaku seni berusia muda : Nabilla Jasmine (Sopran), Nadine Bethbeder (Sopran), Annisa Sabila (Alto), Cecillia Cati (Alto), Dionisius Ivan (Tenor), dan Restha Wirananda sebagai (Music Director/Pianis/Bariton), ini menghadirkan karya yang begitu indah, ditunjang penampilan yang menawan..
Terbentuknya Ekantika, berawal dari berada di tempat perkuliahan yang sama yaitu Institut Musik Daya Indonesia (sekarang dikenal dengan nama DIPAA). “Dari sini, membuat kami sering bermusik dan nyanyi bersama. Berjalannya waktu, kami mempunyai mimpi dan keinginan yang sama ke depannya, maka kami memutuskan membentuk vokal grup yang diberi nama Ekantika. Nama Ekantika yang digagas oleh Cecillia Cati, diambil dari Bahasa Sansekerta yang diartikan dalam bahasa Inggeris “devoted to one aim”, yang kemudian menginspirasi Ekantika untuk menciptakan sebuah kesatuan suara.
Dikatakan oleh Restha, panggilan akrab Music Director/Pianis/Bariton, ide aransemen, banyak terinspirasi dari salah satu vokal grup asal New York, yaitu New York Voices.
Tak kalah menarik dari proses terciptanya lagu “Blooming Flowers”, mengenai seseorang yang berada di tengah situasi gelap di mana mereka berhadapan dengan krisis identitas dan kepercayaan diri. Namun pada akhirnya mereka bisa membuka diri dan memulai cerita dengan pandangan yang baru. Lagu ini terinspirasi dari bunga Wijaya Kusuma yang mekar di malam hari dan layu menjelang matahari terbit.
“Dari metafora bunga, ini terdapat sebuah hikmah bahwa di dalam situasi tergelap pun bisa lahir sesuatu yang indah, hal itu juga berarti baik terang dan gelap akan selalu berdampingan dan saling melengkapi,”kutip Annisa.
Dari berbagai ide melodi yang dilantunkan oleh tiap anggota dan lirik yang ditulis oleh Nadine & Annisa, terciptalah Blooming Flowers dalam genre Open Samba. Aransemen vokal merupakan elemen utama dari single ini.
Proses rekanam dan tim, diawali dengan rekaman piano dan perkusi oleh Restha, lalu dibantu oleh para musisi yaitu Andreas Nandiwardhana (Guitar), Indra Bayu Rusady (Double Bass) & Praditya (Drums).
Proses perekaman iringan musik dilakukan terlebih dahulu secara tracking yang dibantu oleh Kelana Halim sebagai audio engineer. Setelah rampung, baru dilakukan proses rekaman vokal Ekantika.
Sebelum Ekantika melakukan proses rekaman, Ekantika sudah melakukan latihan bersama beberapa kali.
Perekaman vokal Ekantika juga dibantu oleh Kelana Halim. Hasil rekaman iringan musik diedit oleh Ferdinand Chandra. Hasil mixing rekaman dikerjakan oleh Kelana Halim dan master rekaman oleh Dimas Pradipta, serta dibantu oleh Massive Music Entertainment sebagai publisher.
Dalam kesempatan kali, ini Ekantika bekerjasama dengan Chenny Aviana untuk membuat Cover Artwork dengan gambar Bunga Wijaya Kusuma di malam hari yang merupakan sebuah simbol dari lagu tersebut.
Setelah melewati beberapa proses yang cukup panjang, perilisan lagu “Blooming Flowers”diharapkan dapat menjadi inspirasi positif untuk masyarakat luas di dunia yang sedang melewati masa sulit. Situasi pandemi ini menjadi momen khusus bagi Ekantika karena dengan segala tantangannya, Ekantika mampu bergerak dan tetap berkarya.
Industri musik Indonesia ternyata belum bisa damai. Dari melihat, pengangkatan Komisioner Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN), yang berperan penting dalam mengurus royalti dan hak cipta, ternyata menyisakan kekecewaan pada pihak Komisioner LMKN periode 2019 – 2024. Mereka yang bergabung dalam Komisioner LMKN Jilid 2, menyatakan ketidakpuasannya karena tidak adanya pemanggilan mau pun penjelasan atas pencabutan […]
Sebuah kolaborasi musik yang fresh! Dua generasi bersatu dalam eksplorasi musik elektronik. Berawal dari gagasan Osvaldo Nugroho dan Winky Wiryawan yang pernah melewati “golden era” dari skena electronic music Tanah Air. Kini, keduanya tergerak kembali melahirkan trek dance music dari era mereka, namun kini dengan sentuhan progressive house serta imbuhan tema permainan instrumen gitar yang […]
Sajian pentas teater terkini“Di Tepi Sejarah” seri monolog yang diprakarsai oleh Happy Salma dan Yulia Evina Bhara selaku Produser dari Titimangsa Foundation dan KawanKawan Media, merupakan kerja bersama dengan Direktorat Perfilman, Musik dan Media Baru Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia, tak hanya layak dinikmati. Lebih dari itu, goresan Sejarah sangat lekat. Menceritakan […]