Dari mendapati meningkatnya paparan nikotin melalui rokok elektrik (vape) di kalangan remaja, kiranya kerap tidak disadari oleh orangtua. Sangat perlu diketahui bahkan diwaspadai, penggunaan vape di kalangan anak muda, tidak terkesampingan betapa bahaya kandungan nikotin dan zat kimia dalam vape Hal inilah menjadi keprihatinan dan ditunjukkan oleh Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Merupakan organisasi nirlaba yang […]
Dari mendapati meningkatnya paparan nikotin melalui rokok elektrik (vape) di kalangan remaja, kiranya kerap tidak disadari oleh orangtua. Sangat perlu diketahui bahkan diwaspadai, penggunaan vape di kalangan anak muda, tidak terkesampingan betapa bahaya kandungan nikotin dan zat kimia dalam vape
Hal inilah menjadi keprihatinan dan ditunjukkan oleh Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Merupakan organisasi nirlaba yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan dalam upaya penanggulangan kanker melalui kegiatan promotif, preventif, suportif, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat..
Tak pelak, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) pun memperingatkan bahwa semakin banyak remaja terpapar nikotin melalui rokok elektrik (vape) tanpa disadari oleh orangtua. Tentu mencemaskan, kemasan modern, aroma buah, dan citra yang dianggap lebih aman membuat vape semakin mudah diterima di lingkungan anak muda, padahal tetap mengandung nikotin adiktif dan berbagai zat kimia yang berpotensi merusak kesehatan paru-paru.
Hetty Andika Perkasa (tengah), selaku Ketua Bidang Organisasi YKI dan para dokter Yayasan Kanker Indonesia (DR. dr. Rebecca Angka, M.Biomed dan dr. Vinka Imelda)
YKI menilai ancaman vape kini semakin sulit dikenali. Berbeda dengan rokok konvensional yang memiliki bau khas, sedangkan vape hadir dalam berbagai aroma manis dan bentuk menyerupai perangkat elektronik sehingga penggunaannya sering luput dari perhatian keluarga mau pun lingkungan sekitar.
Selain itu, normalisasi vape di media sosial dan pergaulan sehari-hari membuat banyak remaja menganggap penggunaan vape sebagai sesuatu yang wajar dan tidak berisiko. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa vape tetap mengandung zat adiktif yang dapat memicu ketergantungan nikotin dan berdampak buruk bagi kesehatan.
Maka terkait memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 2026, YKI mengangkat tema “Ini Bahaya, Bukan Gaya!” sebagai ajakan kepada masyarakat untuk lebih waspada terhadap berbagai bentuk paparan nikotin, termasuk melalui rokok elektrik.
Kian Tinggi Jumlah Remaja Terpapar Nikotin
Indonesia saat ini masih menghadapi beban besar konsumsi produk tembakau, dengan sekitar 70 juta perokok aktif. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi merokok pada anak dan remaja usia 10–18 tahun masih mencapai 7,4 persen, menandakan tantangan serius dalam melindungi generasi muda dari paparan nikotin.
Ibu Murniati Widodo AS
Wakil Ketua Umum II Yayasan Kanker Indonesia sekaligus Ketua Bidang Sosial dan Masyarakat YKI, Ibu Murniati Widodo AS, menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh tertipu oleh kemasan modern vape yang menutupi risiko kesehatan sebenarnya.
“Yang paling mengkhawatirkan bukan hanya meningkatnya penggunaan vape, tetapi banyak orangtua yang tidak menyadari anaknya sudah terpapar nikotin. Karena aromanya manis dan tidak meninggalkan bau seperti rokok konvensional, penggunaan vape sering luput dari perhatian keluarga,” ujar Murniati Widodo.
Menurutnya, persepsi bahwa vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional merupakan kesalahpahaman yang perlu diluruskan.
“Jangan tertipu kemasan modern dan aroma manis. Paru-paru tidak mengenal istilah ‘lebih aman’. Yang masuk tetap bahan kimia. Ini bukan gaya hidup sehat, melainkan ancaman nyata bagi generasi muda kita,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Komisi Pengendalian Tembakau, Prof. DR. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, yang hadir pada kegiatan HTTS 2026 YKI mengatakan bahwa baik rokok mau pun vape sama-sama mengandung nikotin yang bersifat adiktif dan berbahaya bagi kesehatan.
(Ki-Ka) Ibu Murniati Widodo AS – Prof. DR. dr. Hasbullah Thabrany, MPH
“Baik rokok mau pun vape mengandung nikotin yang dapat menyebabkan ketergantungan dan berdampak buruk bagi kesehatan. Karena itu masyarakat perlu menghindari keduanya untuk melindungi kesehatan diri dan keluarga,” ujar Prof. Hasbullah Thabrany.
YKI juga mengingatkan adanya risiko gangguan paru serius yang dikenal sebagai EVALI (E-cigarette or Vaping Product Use-Associated Lung Injury). Kondisi ini dapat menimbulkan sesak napas, batuk berkepanjangan, nyeri dada, hingga memerlukan perawatan intensif.
Sebagai bagian dari upaya edukasi publik, YKI menghadirkan pembahasan khusus mengenai bahaya vape melalui YKI TV dengan menghadirkan para ahli kesehatan untuk membantu masyarakat memahami fakta medis di balik rokok elektrik dan dampaknya terhadap kesehatan paru.
Selain edukasi, YKI juga menggelar Aksi Simpatik Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026 pada Minggu, 31 Mei 2026 di Ring Road Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, sebagai ajakan bersama untuk membangun lingkungan yang lebih sehat dan bebas nikotin.
Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat. Lebih dari 400 peserta yang sedang berolahraga di kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno berpartisipasi dalam aksi edukasi yang dilakukan YKI. Dalam kegiatan tersebut, ratusan peserta secara sukarela berlangganan (subscribe) kanal YKI TV dan mengikuti akun Instagram @yayasankankerid sebagai bentuk dukungan terhadap kampanye pencegahan kanker serta gerakan hidup bebas rokok dan vape.
Partisipasi masyarakat ini menunjukkan semakin tingginya kesadaran publik terhadap pentingnya memperoleh informasi kesehatan yang benar dan terlibat dalam upaya pencegahan kanker. Dukungan tersebut juga menjadi sinyal positif bahwa pesan Hari Tanpa Tembakau Sedunia semakin diterima masyarakat dan mampu mendorong keterlibatan publik dalam membangun lingkungan yang lebih sehat bagi generasi mendatang.
Melalui momentum Hari Tanpa Tembakau Sedunia, YKI menyerukan langkah nyata kepada seluruh elemen masyarakat :
• Bagi anak muda, berani berkata tidak pada vape dan nikotin
• Bagi orangtua, mulai membuka percakapan di rumah dan lebih peka terhadap tanda-tanda
penggunaan vape pada anak
• Bagi sekolah dan komunitas, memperkuat lingkungan bebas rokok dan vape
• Bagi masyarakat luas, berhenti menormalisasi vape sebagai bagian dari gaya hidup modern
“Industri boleh menjual vape sebagai tren, tetapi tugas kita adalah melindungi anak-anak dari kecanduan nikotin. Jangan sampai generasi muda Indonesia tumbuh dengan menganggap ketergantungan nikotin sebagai sesuatu yang normal. Masa depan mereka jauh lebih berharga daripada sekadar mengikuti tren sesaat,” tutup Murniati Widodo.
YKI meyakini bahwa pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Karena itu, melindungi anak-anak dan remaja dari paparan nikotin merupakan investasi penting untuk menurunkan beban kanker dan berbagai penyakit tidak menular di masa depan.
Pepsodent, brand perawatan kesehatan gigi dan mulut produksi PT Unilever Indonesia, Tbk. bekerjasama dengan FDI World Dental Federation dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) kembali memperingati Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Sedunia 2020. Dalam kesempatan ini, Pepsodent mengangkat hasil survei yang dilakukan di 8 Negara mengenai pentingnya menanamkan kebiasaan menyikat gigi pada malam hari; sebuah […]
Jakarta, 18 Agustus 2018 – Semenjak Kementerian Kesehatan Republik Indonesia lancar menebarkan ajakan betapa pentingnya pembentukan tumbuh kembang anak pada 1000 hari pertama atau masa periode emas, diharapkan berujung kian lekat di telinga masyarakat luas. Ada catatan yang perlu diketahui mengenai 1000 hari yang terdiri dari 270 hari selama kehamilan dan 730 hari pada 2 […]
Pneumonia selain banyak menyebabkan kematian pada anak-anak, penyakit pneumonia juga banyak menyerang orangtua di atas usia 50 tahun. Terlebih, di Indonesia insiden tahunan pneumonia pada orangtua Indonesia mencapai sekitar 25-44 kasus per 1000 orang. Tentu, betapa begitu pentingnya pencegahan sejak dini, paru-paru terjaga baik. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar, dan dari melihat jumlah prevalensi pneumonia […]