Kembali dan lagi, Frisian Flag Indonesia menggoreskan keindahan. Bertepatan memperingati World Milk Day (Hari Susu Sedunia) sekaligus Hari Susu Nusantara, Frisian Flag Indonesia (FFI) mengajak masyarakat menjadikan minum susu sebagai bagian dari kebiasaan sehat sehari-hari untuk mendukung kesehatan fisik dan mental keluarga Indonesia di setiap tahap kehidupan. Diperingati setiap tanggal 1 Juni, World Milk Day […]
Dari mendapati meningkatnya paparan nikotin melalui rokok elektrik (vape) di kalangan remaja, kiranya kerap tidak disadari oleh orangtua. Sangat perlu diketahui bahkan diwaspadai, penggunaan vape di kalangan anak muda, tidak terkesampingan betapa bahaya kandungan nikotin dan zat kimia dalam vape
Hal inilah menjadi keprihatinan dan ditunjukkan oleh Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Merupakan organisasi nirlaba yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan dalam upaya penanggulangan kanker melalui kegiatan promotif, preventif, suportif, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat..
Tak pelak, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) pun memperingatkan bahwa semakin banyak remaja terpapar nikotin melalui rokok elektrik (vape) tanpa disadari oleh orangtua. Tentu mencemaskan, kemasan modern, aroma buah, dan citra yang dianggap lebih aman membuat vape semakin mudah diterima di lingkungan anak muda, padahal tetap mengandung nikotin adiktif dan berbagai zat kimia yang berpotensi merusak kesehatan paru-paru.
Hetty Andika Perkasa (tengah), selaku Ketua Bidang Organisasi YKI dan para dokter Yayasan Kanker Indonesia (DR. dr. Rebecca Angka, M.Biomed dan dr. Vinka Imelda)
YKI menilai ancaman vape kini semakin sulit dikenali. Berbeda dengan rokok konvensional yang memiliki bau khas, sedangkan vape hadir dalam berbagai aroma manis dan bentuk menyerupai perangkat elektronik sehingga penggunaannya sering luput dari perhatian keluarga mau pun lingkungan sekitar.
Selain itu, normalisasi vape di media sosial dan pergaulan sehari-hari membuat banyak remaja menganggap penggunaan vape sebagai sesuatu yang wajar dan tidak berisiko. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa vape tetap mengandung zat adiktif yang dapat memicu ketergantungan nikotin dan berdampak buruk bagi kesehatan.
Maka terkait memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 2026, YKI mengangkat tema “Ini Bahaya, Bukan Gaya!” sebagai ajakan kepada masyarakat untuk lebih waspada terhadap berbagai bentuk paparan nikotin, termasuk melalui rokok elektrik.
Kian Tinggi Jumlah Remaja Terpapar Nikotin
Indonesia saat ini masih menghadapi beban besar konsumsi produk tembakau, dengan sekitar 70 juta perokok aktif. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi merokok pada anak dan remaja usia 10–18 tahun masih mencapai 7,4 persen, menandakan tantangan serius dalam melindungi generasi muda dari paparan nikotin.
Ibu Murniati Widodo AS
Wakil Ketua Umum II Yayasan Kanker Indonesia sekaligus Ketua Bidang Sosial dan Masyarakat YKI, Ibu Murniati Widodo AS, menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh tertipu oleh kemasan modern vape yang menutupi risiko kesehatan sebenarnya.
“Yang paling mengkhawatirkan bukan hanya meningkatnya penggunaan vape, tetapi banyak orangtua yang tidak menyadari anaknya sudah terpapar nikotin. Karena aromanya manis dan tidak meninggalkan bau seperti rokok konvensional, penggunaan vape sering luput dari perhatian keluarga,” ujar Murniati Widodo.
Menurutnya, persepsi bahwa vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional merupakan kesalahpahaman yang perlu diluruskan.
“Jangan tertipu kemasan modern dan aroma manis. Paru-paru tidak mengenal istilah ‘lebih aman’. Yang masuk tetap bahan kimia. Ini bukan gaya hidup sehat, melainkan ancaman nyata bagi generasi muda kita,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Komisi Pengendalian Tembakau, Prof. DR. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, yang hadir pada kegiatan HTTS 2026 YKI mengatakan bahwa baik rokok mau pun vape sama-sama mengandung nikotin yang bersifat adiktif dan berbahaya bagi kesehatan.
(Ki-Ka) Ibu Murniati Widodo AS – Prof. DR. dr. Hasbullah Thabrany, MPH
“Baik rokok mau pun vape mengandung nikotin yang dapat menyebabkan ketergantungan dan berdampak buruk bagi kesehatan. Karena itu masyarakat perlu menghindari keduanya untuk melindungi kesehatan diri dan keluarga,” ujar Prof. Hasbullah Thabrany.
YKI juga mengingatkan adanya risiko gangguan paru serius yang dikenal sebagai EVALI (E-cigarette or Vaping Product Use-Associated Lung Injury). Kondisi ini dapat menimbulkan sesak napas, batuk berkepanjangan, nyeri dada, hingga memerlukan perawatan intensif.
Sebagai bagian dari upaya edukasi publik, YKI menghadirkan pembahasan khusus mengenai bahaya vape melalui YKI TV dengan menghadirkan para ahli kesehatan untuk membantu masyarakat memahami fakta medis di balik rokok elektrik dan dampaknya terhadap kesehatan paru.
Selain edukasi, YKI juga menggelar Aksi Simpatik Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026 pada Minggu, 31 Mei 2026 di Ring Road Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, sebagai ajakan bersama untuk membangun lingkungan yang lebih sehat dan bebas nikotin.
Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat. Lebih dari 400 peserta yang sedang berolahraga di kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno berpartisipasi dalam aksi edukasi yang dilakukan YKI. Dalam kegiatan tersebut, ratusan peserta secara sukarela berlangganan (subscribe) kanal YKI TV dan mengikuti akun Instagram @yayasankankerid sebagai bentuk dukungan terhadap kampanye pencegahan kanker serta gerakan hidup bebas rokok dan vape.
Partisipasi masyarakat ini menunjukkan semakin tingginya kesadaran publik terhadap pentingnya memperoleh informasi kesehatan yang benar dan terlibat dalam upaya pencegahan kanker. Dukungan tersebut juga menjadi sinyal positif bahwa pesan Hari Tanpa Tembakau Sedunia semakin diterima masyarakat dan mampu mendorong keterlibatan publik dalam membangun lingkungan yang lebih sehat bagi generasi mendatang.
Melalui momentum Hari Tanpa Tembakau Sedunia, YKI menyerukan langkah nyata kepada seluruh elemen masyarakat :
• Bagi anak muda, berani berkata tidak pada vape dan nikotin
• Bagi orangtua, mulai membuka percakapan di rumah dan lebih peka terhadap tanda-tanda
penggunaan vape pada anak
• Bagi sekolah dan komunitas, memperkuat lingkungan bebas rokok dan vape
• Bagi masyarakat luas, berhenti menormalisasi vape sebagai bagian dari gaya hidup modern
“Industri boleh menjual vape sebagai tren, tetapi tugas kita adalah melindungi anak-anak dari kecanduan nikotin. Jangan sampai generasi muda Indonesia tumbuh dengan menganggap ketergantungan nikotin sebagai sesuatu yang normal. Masa depan mereka jauh lebih berharga daripada sekadar mengikuti tren sesaat,” tutup Murniati Widodo.
YKI meyakini bahwa pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Karena itu, melindungi anak-anak dan remaja dari paparan nikotin merupakan investasi penting untuk menurunkan beban kanker dan berbagai penyakit tidak menular di masa depan.
Jakarta, 19 Juni 2018 – Diresmikannya jalinan kerjasama antara RS Mata Primasana dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), atas dasar misi mulia. Bagi BPJS, guna memperluas dan mempermudah masyarakat pra sejahtera dalam mendapatkan pelayanan kesehatan mata yang memadai, khususnya bagi pasien dengan kelainan/kerusakan retina yang memerlukan tindakan segera. Bagi RS Mata Primasana, berlokasi di Jl. […]
Berkandungan hal menarik dari Seminar awam bertema “Pahami Depresi, Cegah Bunuh Diri”. Seminar secara daring yang diselenggarakan Johnson & Johnson Indonesia dan RS Metropolitan Medical Center (MMC), dalam rangka memperingati “Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia”. (World Suicide Prevention Day/WSPD) yang diperingati setiap tanggal 10 September, ini bertujuan untuk membantu masyarakat mengenali gejala depresi, membantu menurunkan […]
Bulan suci Ramadhan merupakan bulan penuh keberkahan, ampunan serta kasih sayang dari Allah SWT. Dan selama bulan suci Ramadhan, kembali umat Muslim di seluruh Dunia menunaikan ibadah puasa. Di tahun, ini saat seluruh Dunia termasuk Indonesia, sedang dilanda pandemi virus Covid-19 sehingga kita semua dianjurkan untuk menerapkan social distancing dan tetap #DiRumahAja guna membantu meratakan […]