Sebagai bagian dari upaya untuk mewujudkan kepedulian terhadap pemudik Idul Fitri 2025, Kalbe — PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) berdiri sejak tahun 1966 dan merupakan salah satu Perusahaan farmasi terbuka terbesar di Asia Tenggara — melalui Entrostop dan Promag menggelar Emergency STOOOOOP! dengan membagikan produk kesehatan pencernaan senilai lebih dari Rp 1 miliar di jalur […]
Ekspor tekstil dan pakaian jadi (TPT) agar tepat sasaran, ada pun salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh
para pelaku Industri adalah dengan
menentukan produk dan kualifikasi produk yang tepat. Ini tak lepas dari,
pemenuhan persyaratan dan mekanisme yang
diberlakukan oleh Negara tujuan ekspor.
Menariknya, para pelaku Industri TPT, di
samping perlu memetakan Negara tujuan
ekspor, sekaligus membuka Negara tujuan
baru.
Demikian dikatakan oleh Ekonom Affan Alamudi, MSc., dalam diskusi online terkait industri TPT, Selasa (12/1/2021). Lanjutnya,”Maka kalau ditanya, apakah Indonesia bisa bersaing di pasar global, saya jawab bisa. Karena begitu banyak Negara yang masih membutuhkan produk TPT Indonesia, dan juga tentu selama Indonesia bisa memenuhi apa demand mereka.
Affan Alamudi, MSc.,
Tercatat, Negara-Negara yang yang masih membutuhkan produk TPT Indonesia,
bukan hanya Timur Tengah. Tapi ada Eropa Timur dan Eropa Barat, Afrika dan
Amerika Latin. “Maka penting di sini, pelaku industri bisa membuka komunikasi dengan
Negara-Negara tersebut, baik dengan
sistim B2B atau B2G,” ucap Affan Alamudi, dan mencontohkan Uzbekistan yang membutuhkan pasokan produk
pakaian Muslim.
“Tapi mereka kesulitan menemukan supplier dari Indonesia, yang tentu juga mampu konsisten pada waktu, jumlah dan kualitas. Jadi di sini, pelaku Industri Indonesia harus melihat kemampuan. Bila tidak, pihak pembeli kecewa dan tidak akan mengambil lagi dari Indonesia,” urai Affan Alamudi yang juga menyebutkan pelaku Industri juga harus bisa melihat kualifikasi dari Negara tujuan.
Secara umum, lanjutnya, adapun kendala yang
dihadapi para pelaku Industri TPT Indonesia adalah terkait harga produk mahal,
kualitas dan bahasa. “Harga produk yang mahal, bisa disebabkan karena biaya tenaga kerja,
biaya bahan baku dan biaya listrik. Sementara untuk kualitas, biasanya berasal
dari sarana produksi yang sudah tua sehingga menimbulkan keraguan pada buyer apakah produsen mampu memenuhi
biaya produksi,” paparnya.
Selain itu, ada juga tantangan dari penerapan
Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) atau safeguard
dari Negara tujuan.
“Jadi, untuk melakukan ekspor produk, jangan hanya bergantung pada Pemerintah. Tapi coba pelaku Industri coba dulu. Kalau memang ada yang membutuhkan bantuan Pemerintah, bisa dibicarakan. Terutama untuk masalah regulasi Negara tujuan,” ucapnya.
Elis Masitoh
Direktur Industri Tekstil Kulit dan Alas Kaki
Kementerian Perindustrian Elis Masitoh
menyatakan bahwa ekspor pakaian jadi mengambil porsi terbesar dalam ekspor TPT,
yaitu 3,27 persen. Baru diikuti oleh tekstil sebesar 2,57 persen.
“Pada tahun 2010, 5 Negara tujuan
terbesar kita itu secara berurut adalah Amerika, Jerman, Jepang, Korea
dan Inggeris. Dan pada 2020, susunannya berubah menjadi Amerika, Jepang, China,
Korea dan Jerman. Ini harus dilihat kenapa, dan . apakah ada yang menggantikan
kita sebagai supplier atau produk
kita tidak cocok atau terhambat regulasi,” kata Elis dalam kesempatan yang
sama.
Ia mengakui, akibat pandemi COVID 19 telah terjadi beberapa penurunan pada sektor ekspor
TPT. Elis Masitoh memaparkan,”Dari sektor Fiber dan Filamen, ada
penurunan 23,2 persen pada periode Januari hingga Juli. Benang dan kain menurun
24 persen pada periode Januari hingga Mei. Industri pakaian jadi mengalami
penurunan ekspor 14,5 persen pada periode Januari hingga Mei. Dan IIndustri non woven menurun ekspornya 1,2 persen
pada periode Januari hingga Mei.
Tapi pada Triwulan III 2020, sudah mengalami
perbaikan, dengan mencatat kenaikan 11,69 poin menjadi -8,37 persen.
“Untuk mengembalikan dan meningkatkan
ekspor ini, perlu dilakukan peningkatan kapasitas dan kapabilitas industri
eksisting. Baik melalui investasi baru, penguatan supply chain mau pun dengan melakukan peningkatan kapasitas dan
kerja sama luar negeri melalui optimalisasi perjanjian perdagangan,”
pungkasnya.
Perempuan memiliki peran, semangat dan potensi yang sangat besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja di masa mendatang, itu tidak bisa dipungkiri. Sementara, penelitian dari International Finance Corporation World Bank Group memaparkan bahwa 80% UMKM yang dimiliki perempuan belum memiliki akses pendanaan dari perbankan karena prosedur yang dianggap memberatkan. Selain itu, Survei Nasional […]
Kondisi pandemi yang memberi guncangan pada perekonomian Indonesia dan global, seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mendorong para pelaku UMKM untuk mengembangkan diri dan menjadi tulang punggung perekonomian Nasional. Penggerak UMKM Alumni dan inisiator LUPBA One Brand, Dr. Dewi Tenty Septi Artiany, SH, MH, M.kn, menyebutkan UMKM seharusnya bisa menjadi leader perekonomian Nasional. “Kondisi pandemi memang memengaruhi […]
Di tengah suasana pandemi COVID-19, penutupan perusahaan fintech ilegal cukup marak terjadi. Namun, di tengah itu ada kabar baik datang dari salah satu perusahaan fintech karya anak bangsa. Adalah, Fintech peer to peer (P2P) lending lokal PT JULO Teknologi Finansial (JULO), yang secara resmi mengantongi izin usaha sebagai salah satu Perusahaan Penyelenggara Layanan Pinjam Meminjam […]