Betapa berarti dan tertanam baik di hati, IKEA, sarana kebutuhan untuk menciptakan kehidupan sehari-hari yang lebih baik bagi banyak orang, yang berpesona, dengan menawarkan rangkaian produk perabot rumah tangga yang fungsional, didesain dengan baik, dengan harga terjangkau. Maka, tepat tanggal 15 Oktober 2026, IKEA Indonesia genap berusia 12 tahun sejak toko pertamanya resmi dibuka di […]
Makanan, sangat berperan terhadap
keadaan seseorang. Dan menurut penelitian dalam beberapa dekade terakhir
menunjukkan adanya hubungan antara sejumlah jenis makanan dan nutrisi terhadap
resiko terhadap kesehatan, termasuk kanker Lambung.
Ketua Yayasan
Kanker Indonesia Prof. DR. dr. Aru
Sudoyo, SpPD, KHOM, FINASIM, FACP, di acara Webinar Kanker
Lambung yang diselenggarakan Yayasan
Kanker Indonesia (YKI) dan didukung oleh Taiho Pharma Singapore PTE. LTD., yang berlangsung pada hari Rabu,
10 Februari 2021, dengan topik bahasan: “Gaya Hidup Masa Kini: Waspada Kanker
Lambung Mengintai Anda!”, menjelaskan
bahwa faktor-faktor resiko terkena kanker hanya 5-10% yang diakibatkan oleh
faktor genetika. Sedangkan 90-95% lebih disebabkan oleh faktor lingkungan
yang meliputi diet (30-35%), rokok
(25-30%), infeksi (15-20%), obesitas (10-20%), alkohol (4-6%) dan lain-lain
(10-15%).
“Dengan demikian, kanker dapat dicegah dengan
pola hidup sehat dan melakukan deteksi dini kanker,” ujar Prof. Aru Sudoyo.
Dalam paparannya, Ketua Yayasan Kanker Indonesia Prof. DR. dr. Aru Sudoyo, SpPD, KHOM, FINASIM, FACP mengatakan, “Pada awalnya, kanker lambung sering disangka sebagai sakit maag biasa sehingga sebagian besar pasien datang terlambat dan sudah pada stadium lanjut.”
Prof. DR. dr. Aru Sudoyo, SpPD, KHOM, FINASIM, FACP
Prof. Aru Sudoyo menjelaskan enam situasi yang
perlu diwaspadai sebagai gejala kanker Lambung :
Situasi pertama adalah adanya nyeri abdomen yaitu nyeri perut atau abdomen yang awalnya terasa ringan, namun karena sibuk sehingga tidak diperhatikan, dan tidak hilang dengan makan, sehingga lama kelamaan nyeri semakin berat sampai tak tertahankan. “Gejala yang paling sering dari kanker lambung (antara 60%- 90%) mirip sakit maag,” ucap Prof. Aru.
Situasi kedua adalah di mana seseorang mulai sulit menelan makanan, dan ini terjadi bila tumor berlokasi di daerah kardia atas, maka akan terjadi penyempitan, di mana makanan terasa “tersangkut” di daerah dada, terpaksa minum air yang banyak, namun kemudian akan naik balik ke atas atau juga disebut dengan “gastroesophageal reflux” atau gerd.
Situasi ketiga adalah rasa mual dan muntah pada waktu makan. Hal ini terjadi bila tumor terletak dekat dengan jalan masuk ke usus halus atau pylorus. Hambatan lewatnya makanan akan mengirim sinyal ke otak bahwa makanan “harus dikembalikan ke atas”.
Situasi keempat adalah semakin merasa cepat kenyang dengan terisinya ruang lambung oleh tumor, sehingga semakin sedikit makanan yang masuk tubuh. Hal ini terjadi terutama pada kanker Lambung jenis “difus” di mana sel-sel tumor mengambil permukaan luas lambung, di mana elastisitas Lambung berkurang.
Situasi kelima terjadi penurunan berat badan secara drastis, bisa karena sulitnya makanan turun atau karena muntah, serta makanan dan nutrisi akan berkurang.
Situasi keenam adalah mulai terjadi perdarahan, di mana tumor atau kanker menembus lapisan dalam Lambung. Bila perdarahan masih sedikit, tidak menampakkan adanya gejala. Namun pada perdarahan besar, berakibat pada hematemesis atas atau melena bawah dengan gejala anemia.
Jakarta, 13 Juni 2018 – Tak henti memberikan apresiasi kepada konsumen setianya, itulah yang dilakukan oleh Confidence. Brand popok dewasa yang teruji klinis oleh Australian Dermatologist sebagai popok dewasa yang aman bagi kulit sensitif, dan telah meraih banyak penghargaan baik dari dalam maupun luar Negeri, kini bekerjasama dengan Alfamart seluruh Indonesia, mengadakan program berhadiah bertajuk […]
Bertolak dari memperingati Hari Kanker Paru Sedunia yang tahun ini mengusung semakmangat “Bersama Melawan Kanker Paru”, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kanker paru melalui informasi kesehatan yang akurat, berimbang, dan berbasis bukti ilmiah. Kiranya ini tidak lepas dari di tengah meningkatnya perhatian publik mengenai penggunaan atap asbes sebagai material bangunan, maka […]
Indonesia adalah bangsa yang kolektif, salah satu buktinya adalah tingginya jumlah pernikahan endogami (pernikahan antara suku atau kekerabatan yang sama). Data Badan Pusat Statistik 2010 menunjukkan 89,3% pasangan di Indonesia menikah secara endogami. Di balik fakta tersebut, banyak dari pasangan ini mengalami masalah yang disebabkan oleh alasan fundamental seperti pandangan hidup yang tidak sejalan atau […]