Terbilang banyak rumah di Indonesia yang tidak selalu memiliki ruang bermain khusus. Melainkan, ruang keluarga, kamar tidur, bahkan teras sering kali menjadi tempat anak bermain dan bereksplorasi serta keluarga berkumpul. Berangkat dari pengamatan itulah kiranya, dan tak terbantahkan bila IKEA Indonesia lantas menghadirkan berbagai pilihan produk dari koleksi GREJSIMOJS yang dirancang untuk menghadirkan lebih banyak momen bermain […]
Gaya hidup merupakan salah satu kunci kesehatan seseorang dari paparan penyakit, baik penyakit menular mau pun penyakit tidak menular, seperti kanker ginjal.
Walau masih jarang dibicarakan, kanker ginjal dan Renal Cell Carsinoma (RCC) atau Karsinoma sel ginjal merupakan jenis kanker ginjal yang paling umum.
Dapat dilihat, kejadian baru kanker ginjal di Indonesia, menurut data GLOBOCAN 2020, kejadian baru kanker ginjal di Indonesia sebanyak 2.394 dengan 1.358 kematian (57%) akibat kanker ginjal. Sementara di Dunia, terdapat 431.288 kasus baru dengan 179.368 (41%) kematian.
Berdasarkan data Survailans, Epidemiologi dan Hasil Akhir (SEER) dari the American Cancer Society yang dikelola oleh the National Cancer Institute (NCI), secara keseluruhan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun untuk kanker ginjal adalah 75%, namun pasien kanker ginjal stadium lanjut dengan metastasis memiliki tingkat kelangsungan hidup 5 tahun jauh lebih rendah yaitu sebesar 13%.
Anggota Bidang Pelayanan Sosial Yayasan Kanker Indonesia (YKI) yang juga Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik, dr. Nadia Ayu Mulansari, Sp.PD-KHOM, mengatakan, “Kebanyakan RCC didiagnosis pada usia di atas 60 tahun dan ditemukan pada stadium awal, namun tidak sedikit pasien yang didiagnosis pertama kali dan sudah berada pada stadium di mana kanker ginjal telah mestastatik atau pada stadium lanjut, sehingga memerlukan perawatan yang seksama dan tepat agar kualitas hidup pasien dapat terus terjaga.”
dr. Nadia Mulansari melanjutkan penjelasannya, bahwa RCC adalah sel ganas yang tumbuh pada tubulus ginjal. Sebagai jenis kanker yang agresif, RCC dapat menyebar ke organ lainnya seperti paru-paru, hati, dan otak, sehingga sangatlah penting untuk lebih peka dalam merasakan dan mengetahui tanda dan gejalanya sejak awal.
Pada stadium dini, biasanya kanker ginjal tidak menimbulkan tanda atau gejala apa pun dan diagnosis biasanya dicurigai berdasarkan temuan insidental, baik dengan CT, MRT atau pun biopsi.
Namun pada stadium lanjut, pasien kemungkinan dapat merasakan gangguan seperti adanya darah dalam urin, urin berwarna kemerahan, nyeri punggung bawah di satu sisi meski tidak ada cedera, terdapat benjolan di samping atau punggung bawah, sering terasa lelah dan kehilangan selera makan, berat badan turun meski tidak melakukan diet, demam yang tidak kunjung sembuh meski tidak terdapat infeksi, serta kurangnya sel darah merah atau anemia.
“Jika seseorang merasakan gejala-gejala tersebut, maka perlu untuk segera berkonsultasi dengan dokter,” ujar dr. Nadia Mulansari.
Selain itu, masyarakat perlu mengetahui faktor resiko yang dapat berakibat terjadinya kanker ginjal. Faktor resiko utama adalah kebiasaan merokok dan obesitas, disusul dengan faktor lainnya seperti tekanan darah tinggi, penyerapan cairan tidak mencukupi, jenis kelamin di mana laki-laki lebih mungkin terkena daripada wanita, riwayat keluarga terkena kanker ginjal, paparan di tempat kerja, seperti lingkungan dengan bahan kimia tertentu, konsumsi alkohol dan obat penghilang rasa sakit dalam jangka waktu lama.
Namun demikian dr. Nadia Mulansari melanjutkan keterangannya, “Faktor resiko terkena kanker hanya 5-10% yang diakibatkan oleh faktor genetika, sedangkan 90-95% lebih disebabkan oleh faktor lingkungan. Maka jika mau sehat, berhentilah merokok dan jagalah berat badan yang ideal, jagalah tekanan darah agar tidak tinggi, konsumsi makanan yang sehat seperti buah-buahan dan sayuran, dan berolah ragalah secara teratur.”
Ada pun pengobatan RCC meliputi pembedahan seperti nefrektomi atau pengangkatan tumor dari ginjal, dilanjutkan dengan terapi sistemik. Jika kedua ginjal sudah diangkat, maka pasien perlu menjalani cuci darah seumur hidupnya. Dengan kemajuan pengobatan, kini pasien RCC dapat memanfaatkan pengobatan imunoterapi atau terapi biologis. Terapi lainnya meliputi terapi target di mana pengobatan ditargetkan hanya ke sel kanker saja sehingga efek terhadap sel sehat minimal.
“Pilihan perawatan akan menyesuaikan dengan keadaan stadium RCC yang dialami pasien, hal ini agar kualitas hidup pasien dapat berlangsung baik,” ungkap dr. Nadia Mulansari.
dr. Nadia Mulansari mengingatkan kepada masyarakat untuk selalu mewaspadai jika terdapat gejala seperti BAB berdarah dan segera berkonsultasi dengan dokter untuk didiagnosis. “Jika dideksi dan dirawat sejak dini, maka kemungkinan pulih lebih besar,” jelasnya.
Kanker hati adalah salah satu kanker yang paling tinggi menyebabkan kematian di Indonesia. Dalam catatan, dengan jumlah kasus yang mencapai 21.392 orang pada tahun 2020, kanker hati adalah salah satu kanker yang paling tinggi menyebabkan kematian di Indonesia. Kanker hati juga meruppakan peringkat ke-4 di Indonesia dengan angka prevalensi 5 tahun sebesar 22.530 kasus. Karsinoma […]
Jakarta, 20 Maret 2018 – Rutinitas tidur berpelukan dengan pasangan nyatanya berikan beberapa hal positif. Terkecuali rasa nyaman, serta menguatkan ikatan, dapat juga buat tidur lebih lelap. Beragam faedah itu menurut pandangan beberapa psikolog berbuntut pada rasa bahagia keseluruhannya. Bahkan juga sentuhan yang dikerjakan bisa berikan rasa aman serta kurangi stres. Bila masih tetap sangsi […]
Kiranya, prevalensi anak berperawakan pendek di Indonesia tergolong masih tinggi. Maka urgensi untuk memperluas akses gizi seimbang dan ketahanan pangan. Terkait, catatan dari penelitian terbaru South East Asian Nutrition Surveys kedua (SEANUTS II) mendapati prevalensi anak stunted dan anemia, khususnya di antara anak-anak usia di bawah 5 tahun di Indonesia, tertera masih tinggi. Bahkan, sebagian […]