Melalui instalasi dengan tema Colors of Nature, KOHLER, Pemimpin global di industri kitchen and bath premium, menandai kehadiran perdananya di ARCH:ID 2026, pameran dan konferensi arsitektur terkemuka di Indonesia. Pada acara yang berlangsung di ICE BSD City pada 23 – 26 April 2026, menghadirkan pengalaman ruang yang memadukan seni, desain, inovasi, serta inspirasi dari kekayaan […]
Di Indonesia, timbunan sampah pada 2020 telah mencapai 67,8 juta ton per tahun, dan diperkirakan akan meningkat 5% setiap tahunnya. Dan dari jumlah ini, 15%-nya adalah sampah plastik. Yang tentu lingkungan menjadi tidak sehat.
Maka semua pihak dalam rantai nilai sampah perlu berbagi peran melakukan aksi nyata. Terkait hal itu kiranya, PT Unilever Indonesia, Tbk, kali ini menggandeng para pakar di bidang ilmu sosial untuk menggali lebih dalam dan mencari solusi permasalahan sampah plastik dari berbagai kajian humaniora melalui diskusi bertema “Plastik dan Evolusi Perilaku Manusia”.
Pada acara diskusi webinar, dipandu Nadia Mulya, berlangsung medio bulan November 2021, Maya Tamimi, Head of Sustainable EnvironmentUnilever Indonesia Foundationmengatakan, “Edukasi ke masyarakat dan khususnya konsumen menjadi salah satu fokus yang kami lakukan. Misalnya, baru-baru ini kami meluncurkan gerakan #GenerasiPilahPlastik untuk mengajak masyarakat menjadi generasi yang lebih peduli lingkungan dan lebih bertanggung jawab terhadap kemasan yang mereka gunakan, terutama kemasan plastik. Kami percaya jika konsumen atau masyarakat bergerak bersama kami, kita bisa menghasilkan dampak yang lebih signfikan dalam menciptakan lingkungan yang lestari, lebih bersih dari sampah.”
Kian menawan diskusi yang diselenggarakan, dengan apa yang disampaikan Dr. Yosefina Anggraini, S.Sos, M.Si., Antropolog dan Pengajar LPEM FEB UI. “Untuk dapat membangun sebuah kebudayaan bijak sampah, dibutuhkan tiga komponen yang saling berkaitan, yaitu Infrastruktur, Suprastruktur dan Struktur. Ketiga komponen tersebut memiliki keterkaitan yang erat dengan industri. Pada tahapan perkembangan masyarakat saat, ini industri merupakan kunci perekonomian masyarakat, namun di sisi lain industri menghasilkan sampah yang jika tidak dikelola dengan bijak akan mengganggu kelestarian ekologi dan populasi manusia.
Dalam komponen Infrastruktur, industri harus menggunakan teknologi yang mendukung kelestarian ekologi dan populasi manusia. Sementara Suprastruktur mencakup beragam ide, gagasan atau cara pandang ketika manusia harus hidup berdampingan dengan sampah sebagai konsekuensi dari industri.
Masyarakat dapat menentukan apakah sampah akan terus diposisikan sebagai lawan dan ancaman yang membahayakan hidup manusia; atau justru melihat sampah sebagai sahabat karena memberikan manfaat, misalnya dengan menciptakan nilai ekonomi dari sampah.
Untuk menciptakan perilaku bijak sampah, diperlukan pula dukungan dari Struktur, yaitu organisasi yang ada dalam struktur masyarakat untuk meregulasi dan menata pengelolaan sampah, serta menerapkan perilaku bijak sampah sebagai nilai budaya baru dalam kehidupan sehari-hari.”
Sementara dari sisi Sosiologi, penanaman kesadaran kolektif untuk bijak sampah plastik sebenarnya dapat dilakukan melalui banyak pendekatan, seperti regulatif, insentif, dan lainnya. Namun semuanya harus diawali dengan membangun kultur bijak sampah plastik, yaitu kesadaran individual untuk mengubah persepsi mengenai sampah plastik, serta peranan mereka dalam mengatasi permasalahan tersebut.
Dr. Arie Sujito, S.Sos, M.Si., Sosiolog dan Pengajar FISIPOL Universitas Gadjah Mada menerangkan, “Kemampuan mengelola sampah dan menjaga kelestarian lingkungan adalah penanda peradaban, dan inilah yang menjadi tantangan kita bersama. Masyarakat harus terlebih dahulu mengubah persepsi mengenai lingkungan, bahwa lingkungan harus dijaga agar kualitas kehidupan tetap baik untuk masa kini dan masa mendatang. Hal ini berhubungan pula dengan cara kita memandang sampah plastik sebagai bagian dari masalah lingkungan, bahwa sampah plastik bukan hal yang menjijikkan atau tidak bermakna, melainkan bagian dari keseharian yang jika mampu dikelola dan dikendalikan akan meningkatkan kualitas hidup.”
Pandangan ini sejalan dengan kajian perilaku seseorang dalam ilmu psikologis. Mereka yang masih tidak memiliki kepedulian terhadap sampah umumnya kurang memiliki empati atau apatis, akibat rasa denial dan ketidaknyamanan untuk mengakui bahwa permasalahan sampah adalah hal yang nyata dan mengancam kehidupan mereka.
Diskui kali, ini kian berpesona dengan apa yang disamaikan Tara de Thouars, BA, M. Psi., Psikolog Klinis. Kattanya, “Jadi, perilaku peduli terhadap masalah sampah adalah pilihan yang sangat subyektif. Pertama-tama perlu ditanamkan kesadaran bahwa bertanggung jawab terhadap sampah adalah langkah kebaikan sederhana namun berdampak besar. Untuk memiliki kesadaran, perlu dimulai dengan adanya sense of purpose karena seseorang baru akan termotivasi jika apa yang dilakukannya memiliki tujuan dan arti.”
“Lebih bijak mengelola sampah bisa menjadi salah satu bentuk sense of purpose bahwa mereka sudah berhasil mewujudkan purpose yang positif bagi diri dan lingkungannya. Setelah itu, perbuatan bijak ini perlu didukung dan dipertahankan dengan adanya self reward, sesederhana mengapresiasi diri bahwa kita telah melakukan sebuah kebaikan. Pada akhirnya, self reward ini dapat menjadi dorongan bagi seseorang untuk mengubah perilakunya secara jangka panjang,” lanjut Tara de Thouars.
Di penghujung acara diskusi, Maya Tamimi berujar,“Kami harap diskusi kali ini bisa semakin mempererat sinergi antar berbagai pihak, baik produsen, Pemerintah, akademisi, praktisi dan juga konsumen untuk sama-sama bisa berbagi peran membantu permasalahan sampah di Indonesia. Kami sadar dibutuhkan komitmen dan waktu yang panjang untuk bisa menyelasikan permasalahan ini, untuk itu #MariBerbagiPeran tempatkan plastik di tempatnya, dalam ekonomi, dan tidak di lingkungan kita.”
Beriring guna untuk meningkatkan hasil Klinis bagi pasien, adalah, RS Abdi Waluyo, berlokasi di Jakarta akan menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang memiliki NAEOTOM Alpha, photon-counting CT pertama di Dunia yang bisa mengoptimalkan diagnosis dan pengobatan pasien di Indonesia. Sistem pencitraan medis yang revolusioner, ini dirancang untuk meningkatkan diagnosis, perawatan, dan outcome pasien. Dan, didesain untuk […]
Dari studi Unilever tahun, ini kepada wanita di berbagai wilayah di Indonesia memperlihatkan bahwa 60% wanita merasa tantangan terbesar mereka dalam meraih mimpi berasal dari faktor keluarga dan tuntutan masyarakat. Dari sana, dibutuhkan sosok-sosok role model serta dukungan secara holistik agar semua wanita Indonesia dapat memiliki motivasi lebih untuk meraih mimpi. Maka betapa berartinya kehadiran […]
Diyakini dan percaya wanita memiliki kesempatan sama untuk maju dan berkembang melalui pendidikan tinggi agar dapat berkontribusi lebih, termasuk di bidang yang masih kurang peran serta perempuan di dalamnya, Glow & Lovely turut berperan mewujudkan impian indah banyak wanita. Melalui Glow & Lovely Bintang Beasiswa. Program menawan yang dimulai sejak 2017, di tahun ke-enamnya – […]