Hari Rabu, 20 Mei 2026 malam, ada tebar keindahan. Tepatnya, panggung di The Ballroom Djakarta Theatre menjadi ruang pertemuan antara seni, empati, dan aksi nyata melalui pergelaran amal GITA CITRA CITA, sebuah inisiatif fundraising yang diprakarsai Lions Club Jakarta Jaya Sunter Agung untuk mendukung program Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI). Acara spesial dan berpesona […]
Resistansi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR) merupakan ancaman serius bagi kesehatan global. Hal itu terkait laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa 700.000 kematian di seluruh Dunia terjadi pada tahun 2017 akibat AMR. Yang apabila tidak dikendalikan secara optimal, kondisi ini adalah sebuah pandemi senyap yang mengancam hingga 10 juta kematian setiap tahun pada tahun 2050.
Penyebab AMR adalah penggunaan antimikroba, termasuk antibiotik, secara tidak rasional. Menurut hasil studi, antibiotik dapat dibeli tanpa resep di 64 persen Negara Asia Tenggara. Lebih lanjut, hasil survei menyebut hampir 87 persen rumah tangga di Indonesia menyimpan antibiotik.
Maka penanganan AMR di Indonesia memerlukan kolaborasi dan koordinasi menyeluruh antara pihak Daerah dan Nasional.
Untuk terus memperkuat kolaborasi dan dukungan yang telah dilakukan oleh Kemendikbudristek RI dan USAID selama 3 tahun terakhir, dukungan Pfizer Indonesia dalam program Desa Bijak Antibiotika (SAJAKA) yang diprakarsai oleh One Health Collaboration Center (OHCC) Universitas Udayana, program SAJAKA tahun ini menitikberatkan pelibatan keluarga, tenaga kesehatan dan siswa sekolah sebagai agen perubahan.
Dalam praktiknya, SAJAKA mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Tabanan, serta sejumlah asosiasi, dan perguruan tinggi di Bali. Cakupan program SAJAKA tahun ini juga berkembang, meliputi kegiatan edukasi dan sosialisasi di rumah tangga dan sekolah, mempersiapkan para kader Desa, serta penandatanganan nota kesepahaman penanganan AMR di empat Desa.
Menurut Ketua OHCC Universitas Udayana Prof. Dr. dr. Ni Nyoman Sri Budayanti, Sp.MK (K), “Temuan kami pada periode program sebelumnya membuat kami bisa menentukan langkah strategis, termasuk memilih pendekatan dan mitra yang tepat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan penggunaan antibiotik. Komunitas perempuan melalui Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) adalah para pengambil keputusan dalam hal kesehatan keluarga. Sedangkan anak-anak adalah perpanjangan tangan kami di tingkat sekolah agar kesadaran ini dapat tumbuh secara berkelanjutan di masa mendatang.”
INyomanWahyaBiantara, Kepala Desa Bengkel yang juga telah mendukung program SAJAKA tahun 2022-2023, sekaligus kader edukasi penggunaan antibiotik di Desa Bengkel mengatakan, “Sosialisasi penggunaan antibiotik secara sederhana dan sesuai dengan kultur setempat membuat edukasi ini diterima dan mudah dipahami oleh masyarakat desa. Kami senang program ini terus berlanjut dan kami dapat terus terlibat menjadi kader pencegahan AMR di lingkungan kami.”
Prof. dr. Agus Suwandono, MPH., Dr.PH., Koordinator INDOHUN mendukung keberlanjutan program ini dan menyampaikan, “Keberlanjutan SAJAKA perlu dijaga bersama-sama oleh semua sektor, baik itu kesehatan manusia, hewan, mau pun lingkungan. Replikasi program ke kabupaten dan pulau lain dengan menggunakan pendekatan kreatif seperti yang dilakukan di Bali ini juga perlu dilakukan. Bukan semata- mata karena ini adalah program yang sudah kita bangun bersama, tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran dan melindungi masyarakat.”
Sejalan dengan Koordinator INDOHUN, Dr. Sri Suning Kusumawardani, ST., MT., Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendikbud RI menyampaikan, “Keselarasan kolaborasi antara kalangan akademik di Perguruan Tinggi dan Dunia Industri harus terus dioptimalkan untuk menjamin keberlanjutan program yang berdampak kepada masyarakat. Program ini menjadi bukti nyata kolaborasi lintas sektor yang dapat memperkuat karakter mahasiswa sebagai generasi muda yang solutif dan inovatif untuk membangun masyarakat, dimulai dari desa, dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.”
Untuk terus memperkuat kolaborasi dan dukungan yang telah dilakukan oleh Kemendikbudristek RI dan USAID selama 3 tahun terakhir, dukungan Pfizer Indonesia dalam program SAJAKA menunjukkan komitmen sektor privat untuk aktif terlibat dalam upaya penanganan AMR.
“Keterlibatan Pfizer Indonesia dalam SAJAKA menegaskan komitmen kami sebagai produsen obat-obatan antimikrobainovatif untuk mengambil peran dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia. Upaya ini adalah bagian dari program kami mencegah AMR di tengah masyarakat, selain kami juga terus berupaya mencegah risiko AMR di fasilitas-fasilitas layanan kesehatan seperti melalui gerakan Jitu di ICU dalam Tata Laksana Pemberian Antimikroba yang Bijak dan Rasional: Tepat Waktu, Tepat Pasien, Tepat Guna”, kata Policy & Public Affairs Director Pfizer Indonesia & The Philippines Bambang Chriswanto.
“Keterlibatan Pfizer Indonesia adalah contoh bahwa mitra dari sektor swasta dapat berkontribusi dan memberi dampak positif terhadap penanganan AMR dari komunitas terendah di tingkat desa,” kata dr. Anis Karuniawati, PhD, SpMK(K), Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan RI.
Jakarta, 9 Agustus 2018 – Anda, pasangan muda yang sedang merajut bahtera rumah tangga. Kehidupan yang dijalani terasa kian memukau dan suasana rumah juga sumringah atas kehadirannya buah cinta. Adalah anak menjadi perhatian utama bagi Ibu juga Ayah di tengah aktivitas sebagai profesional di luar rumah. Tentu, orangtua mana pun ingin selalu melakukan yang terbaik […]
Selama masa pandemi, sisi Kesehatan Jiwa masyarakat dan pasien Covid-19, menjadi perhatian Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI). Perhatian yang disampaikan IPK Indonesia dan PDSKJI, — bertepatan dan dalam rangka “Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2020” — dalam bentuk rilis hasil temuan lapangan dan riset, sekaligus mengantisipasi penanganan […]
Pemberian imunisasi rutin lengkap dengan pemenuhan nutrisi tepat akan mendukung tubuh kembang anak secara optimal dan mencegah penyakit Bila keduanya – pemberian imuniasasi rutin lengkap seiring dengan pemenuhan nutrisi tepat — diberikan sejak usia anak lahir, niscaya akan mengurangi persentase kemungkinan anak terpapar penyakit ringan hingga berat. Maka imunisasi tanpa dukungan nutrisi tidak akan memberikan […]