Tentu ada pesona tersendiri dari NIF GLOBAL, yang sebelumnya dikenal sebagai INIFD, merupakan global institusi desain yang telah berdiri selama 24 tahun dan memiliki lebih dari 100 kampus di berbagai Negara. Dan kini tercatat, memiliki headquarters di New York, Amerika Serikat, yang berubah nama menjadi NIF GLOBAL (New York Institute of Fashion), serta memperluas bidang […]
Tidak terkesampaingkan, dan bahkan sangat terasakan masa pandemi Covid-19 memberi pengaruh kepada seluruh aspek kehidupan. Termasuk pelaksanaan program imunisasi Nasional.
Tentu menjadi catatan, cakupan imunisasi di Indonesia sejak pandemi COVID-19 menurun drastis. Yang bila hal ini terus berlangsung, memungkinkan terjadinya wabah penyakit, yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi.
Maka bertepatan dengan Pekan Imunisasi Dunia, Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bersama Satgas Imunisasi IDAI mengadakan seminar media untuk meningkatkan kesadaran dari berbagai pihak agar imunisasi lengkap dapat tetap diberikan, dan penyakit-penyakit yang sudah dapat dicegah dengan imunisasi tidak menjadi wabah di masa pandemi COVID-19 ini.
Di acara seminar media bertema : “Kejar Imunisasi, Selamatkan Generasi”, berlangsung di penghujung bulan April 2021 lalu, yang dibuka oleh moderator Ketua Bidang Organisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), Prof. DR. Dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K), FAAP, FRCPI(Hon.), Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, dalam kata sambutannya menyampaikan,”IDAI sangat concern terkait kurangnya cakupan imunisasi yang terjadi selama COVID-19. Terlebih lagi akan dimulai pembukaan Sekolah tatap muka, imunisasi anak Sekolah harus dijalani dan tentu sesuai protokol kesehatan. Penting juga di sini untuk melibatkan seluruh UKS dalam pembukaan Sekolah ini.”
Lanjutnya,”Dengan melakukan imunisasi, kita menyelamatkan anak Indonesia. “No One is Safe until Everyone is Safe”, jadi kita harus memastikan kejar imunisasi agar kita semua saling terlindungi.”
Dr. Prima Yosephine B.T. Hutapea, M.K.M., Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, narasumber pertama di acara yang menghadirkan pembicara Dr. Cissy B. Kartasasmita, Sp.A(K), MSc, PhD, selaku Ketua Satgas Imunisasi IDAI dan Dr. Kenny Peetosutan, merupakan Spesialis Imunisasi UNICEF Indonesia, menjelaskan bahwa dengan cakupan imunisasi lengkap yang tinggi dan merata akan membentuk kekebalan kelompok, sehingga bila sudah banyak orang yang imunisasi maka akan membuat orang-orang di sekitarnya yang belum imunisasi akan ikut terlindungi dari penyakit tersebut.
Maka bila sekolah tatap muka dilakukan, dan membuat adanya akumulasi anak yang belum di imunisasi lengkap, hal itu dapat meningkatkan resiko outbreak penyakit lain yang sebelumnya sudah dapat tertangani. Seorang anak dapat dikatakan memiliki imunisasi lengkap jika mendapatkan imunisasi saat bayi, di bawah 2 tahun, dan saat sekolah.
Strategi yang dapat dilakukan dalam penguatan imunisasi di antaranya adalah pelacakan bayi dan baduta yang belum lengkap status imunisasi, melakukan pelaksanaan imunisasi kejar (catch-up), peningkatan kompetensi petugas agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan imunisasi, mengupayakan agar kesadaran dan keinginan masyarakat meningkat untuk melakukan imunisasi, melakukan penguatan kerjasama layanan Kesehatan Pemerintah dan Swasta, serta penyediaan vaksin yang cukup dan tepat waktu.
Dr. Prima Yosephine juga menyampaikan akan adanya rencana penambahan vaksin baru yaitu vaksin Pneumokokus (PCV), Japanese Encephalitis (JE), dan Rotavirus. Targetnya tahun 2024 seluruh Indonesia sudah memiliki vaksin tersebut.
[]Andria Hamzah
Photo : Dok. IDAI
Keterangan Photo
1 : Prof. DR. Dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K), FAAP, FRCPI(Hon.)
2 : Dr. Prima Yosephine B.T. Hutapea, M.K.M
Bukan penyakit menular. Tetapi penyakit jantung merupakan penyebab utama kematian di Indonesia kedua setekah stroke. Yang mengejutkan, kalangan usia muda — 30an — yang alami tingkat stres tinggi, beresiko penyakit jantung. Tentu, ini menjadi perhatian serius masyarakat luas, apa yang disampaikan oleh sebuah data dari Sample Registration System 2014 yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik […]
Tentu memprihatinkan. Hasil temuan survei global Pepsodent yang dilakukan pada masa pandemi, 70% masyarakat Indonesia ternyata masih terfokus pada menjaga kesehatan fisik dan mental. Sedangkan perawatan gigi dan mulut belum menjadi prioritas. Sementara dari sana, akan berujung mengancam kesehatan gigi dan mulut, hal ini juga dapat meningkatkan resiko permasalahan kesehatan yang lebih serius. Berangjak dari […]
Penyakit kanker menjadi perhatian kita bersama. Berpijak dari jumlah kasus yang mencapai 21.392 orang pada tahun 2020, kanker hati adalah salah satu kanker yang paling tinggi menyebabkan kematian di Indonesia. Kanker hati juga merupakan penyebab kematian karena kanker peringkat ke-4 di Indonesia dengan angka prevalensi 5 tahun sebesar 22.530 kasus Karsinoma sel hati (hepatoselular karsinoma/HCC) […]