Hadir dengan chipset Exynos 1680 dan sistem pendingin Vapor Chamber yang ditingkatkan untuk menghadirkan performa stabil saat gaming, scrolling social media, hingga multitasking banyak aplikasi, Samsung Galaxy A57 5G bisa menjadi pilihan dan dalam genggaman. Sudah berapa kali smartphone lag di momen krusial saat gaming, atau scrolling sosial media mendadak patah-patah padahal baru dipakai sebentar […]
Siapa
pun, yang memiliki keterbukaan dalam bertutur dan juga dalam bersikap yang baik, terlebih mentolerir berbagai perbedaan, merupakan sikap menawan bahkan bijak. Tinggal
lagi bagaimana toleransi, — yang adalah sikap
adil, objektif, dan menghargai orang lain yang berbeda pendapat tentang banyak
hal, di antaranya kebiasaan, ras,
budaya, dan agama — melekat pada diri seseorang, terutama dimulai
pada kaum generasi milenials ?
Kiranya
berangkat dari sana, dan dalam memaknai Hari Lahir Pancasila, adalah : Unilever Indonesia bergerak Ajak
Generasi Muda Berbagi
Peran Suarakan dan Wujudkan Toleransi. Untuk mewujudkan hingga mencapai.
Untuk mencapai
tujuan itu, Unilever Indonesia menjalin kerja sama dengan Toleransi.id dan IDN Media menggelar diskusi interaktif bertema “Gue Udah Toleran Belum, Sih?”.
Diskusi
webinar yang berlangsung pada Senin,
7 Juni 2021, dihadiri oleh lebih dari
1.500 milenial, dan melibatkan sosok muda inspiratif sebagai pembicara di
antaranya Ayu Kartika Dewi, Staf
Khusus Presiden RI dan Co–Founder Toleransi.id. dan Naya
Anindita, Sutradara dan Penulis Skenario muda, terasakan penuh daya tarik.
Acara
diskusi yang dipandu Christopher Tobing,
pembicara pertama William Utomo,
mewakili IDN Media mengatakan, bahwa generasi
milenial punya peran penting dalam
mewujudkan toleransi. Untuk itu, milenial,
sebagai pemimpin masa depan, harus diberi kesempatan.”
Selanjutnya disampaikan, dalam “Indonesia Millennial Report 2020” yang dikeluarkan IDN
Media, terdapat 7 (tujuh) tipe milenial
dengan karakteristik yang berbeda. Setiap tipe milenial mengaku terbuka dan mentolerir berbagai perbedaan, namun
memiliki cara sendiri-sendiri dalam mengapresiasi perbedaan dan mendukung inklusivitas.
Untuk
memupuk potensi ini, mereka harus mendapatkan lebih
banyak kesempatan untuk memulai percakapan seputar toleransi, mempertanyakan stereotip, menciptakan rasa kebangsaan,
dan mewakilkan suara-suara yang belum terdengar. Maka dari diskusi yang diselenggarajab , seperti hari ini menjadi kesempatan dan platform
untuk menyuarakan dan mempromosikan kesetaraan, keberagaman dan inklusi – dari milenial dan untuk milenial.
Hernie Raharja,
Chairman of Equality, Diversity and Inclusion Board (ED & I) Unilever
Indonesia menyatakan, “Tema diskusi yang
berangkat dari peringatan Hari Lahir Pancasila 2021, ‘Pancasila dalam Tindakan,
Bersatu untuk Indonesia Tangguh’, yang hanya dapat terwujud dalam Dunia yang
lebih toleran dan inklusif, di mana
kita menjadikan persamaan dan perbedaan sebagai kekuatan. Untuk menuju
ke sana, diperlukan tindakan nyata untuk melawan diskriminasi yang seringkali
terjadi tanpa kita sadari (unconscious bias), serta untuk terus
meningkatkan keikutsertaan dan sebisa mungkin menghindari adanya pihak-pihak
yang termarjinalkan.”
“Usaha yang
terus menerus dalam melawan unconscious bias ini sejalan dengan visi
kami dalam Unilever Compass, yang mana salah satu tujuannya adalah
menciptakan Dunia yang inklusif dan
toleran. Dalam hal ini generasi muda menjadi pembuka jalan sebagai generasi
yang lebih terpapar pada banyak informasi terkini, berpikiran maju, kreatif,
vokal, aktif dan berpotensi besar untuk menjadi pendorong perubahan ke arah
yang lebih baik, utamanya dalam mengaplikasikan perilaku yang toleran dan inklusif di Indonesia,” lanjut
Hernie Raharja.
Ayu Kartika Dewi,
Staf Khusus Presiden RI dan Co–Founder Toleransi.id berbagi pendapat,
“Untuk menjadi toleran, ada beberapa modal dasar yang dibutuhkan generasi muda.
Pertama, mereka harus punya pemikiran yang kritis sehingga tak mudah
terpengaruh arus informasi yang belum jelas kebenarannya. Mereka juga perlu
memiliki rasa empati, yang hanya bisa didapat jika mereka melakukan interaksi
langsung dengan orang-orang yang berbeda dengan dirinya. Semua hal ini harus
dilakukan secara intensional dan berkelanjutan, sehingga nantinya ada gaung
inspirasi yang lebih kuat untuk menggerakkan lebih banyak aksi toleransi menuju
Indonesia yang lebih damai.”
Acara
diskusi kian terasa indahnya dengan apa yang disampaikan Naya Anindita, Sutradara dan Penulis Skenario muda yang sering
menyuarakan keberagaman dan inklusi
melalui karya-karyanya turut berbagi pengalaman. ”Saya tipe yang tidak
terpengaruh dengan yang ada di luar. Saya berupaya toleransi. Dan kalau bicara
toleransi , artinya juga bertoleransi dengan diri sendiri.”
[]Andriza Hamzah
Photo
: Alchemy Communications:
Keterangan
Photo Utama :
(atas
ki-ka) Christopher Tobing – Ayu
Kartika Dewi
Jakarta, 16 Februari 2018 – Pembayaran Down Payment (DP) yang mahal kerap menjadi batu sandugan seseorang untuk membeli rumah. Namun tenang saja, belakangan banyak pengembang yang menawarkan pembayaran uang DP yang terjangkau. Nah, bagi Anda yang ingin mencari hunian dengan DP dibawah Rp 10 juta, berikut ini pilihannya dari portal properti Lamudi.co.id. Amanah City Islamic […]
Di tahun 2018, tercatat sebanyak 137 Kota dan Kabupaten yang ikut serta dalam IRSA 2018. Dari 137 peserta, terpilih 23 Kota dan Kabupaten finalis IRSA 2018. 23 finalis terpilih, berdasarkan data-data keselamatan jalan seperti jumlah penduduk, luas wilayah, jumlah kecelakaan, jumlah fatalitas kecelakaan, dan data pendukung lainnya melalui tahap shortlisting. Acara yang berlangsung pada Kamis, […]
Siap mewakili Indonesia. Dua Tim Pemenang dari Dentsu Aegis Network (DAN) Indonesia yang terpilih sebagai Pemenang Penghargaan “Young Spikes Indonesia 2019”, melangkah menuju ajang “Young Spikes Asia 2019”, di Singapura. Juan Ferdinand dan Margaretha Regine Anjanette dari Dentsu X Indonesia, sebagai Pemenang di kategori Digital, serta Firtiza Octalia Eddy dan Emely Florentyna dari Isobar Indonesia, […]