Demam dapat menjadi tanda awal terjadinya infeksi atau kondisi medis lainnya. Dan menurut U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC, 2024), — sebagai otoritas kesehatan masyarakat terkemuka — demam merupakan salah satu indikator klinis awal yang umum digunakan tenaga kesehatan untuk mendeteksi infeksi dan mengidentifikasi perubahan kondisi tubuh. Karenanya, keakuratan hasil pengukuran sangat diperlukan […]
Untuk lebih memperkenalkan dan
menghidupkan kembali karya-karya Sastra Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud)
bekerjasama dengan Titimangsa Foundation,
pimpinan pelaku seni Happy Salma dan Kawankawan
Media mempersembahkan alih
wahana karya Sastra Indonesia ke dalam “Sandiwara Sastra”.
Merupakan alih wahana
Sastra dalam bentuk sandiwara audio dengan durasi 30 menit, yang diperankan
oleh aktor-aktor terkemuka Tanah
Air, akan disiarkan di prodcast@budayakita
dan juga di Radio Republik Indonesia
(RRI) seluruh Indonesia, dengan waktu tayangan
1 minggu satu episode, dimulai pada tanggal 8 Juli 2020, pukul 17.00 WIB, ini juga sebagai bentuk inovasi
dan bagian dari program Belajar dari Rumah di masa pandemi Covid-19.
Memperkenalkan dan menghidupkan kembali karya Sastra Indonesia, Mendikbud Nadiem Makarim pada konferensi pers peluncuran siniar “Sandiwara Sastra” di Jakarta, terkait Sastra menempati posisi penting dalam pemajuan Budaya dan pembentukan karakter bangsa.
Karya sastra pada hakikatnya
tercipta dari situasi dan pergulatan diri. Pengalaman, pengamatan, serta
pemaknaan situasi dan latar belakang sejarah dalam karya Sastra merupakan
bentuk penguatan karakter. Melalui tokoh-tokoh dalam karya Sastra, masyarakat
dapat mengenal lebih dekat sifat kemanusiaan.
“Sandiwara Sastra bukan hanya
menjadi sebuah karya seni dan inovasi. Lebih dari itu, ini adalah jalan untuk
mengangkat literasi. Untuk itu, saya mengajak seluruh Pelajar dan Mahasiswa
kembali menghidupkan dan mengenal karya sastra terbaik Indonesia melalui
“Sandiwara Sastra,” Mendikbud Nadiem Makarim menambahkan.
Acara Press Conference melalui Virtual Zoom yang diapndu aktris Maudy
Koesnaedi. dan mengetengahkan pembicara Happy Salma, aktris senior Christine
Hakim, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid menjelaskan arah
ke depan dalam pengembangan Sastra. “Kemendikbud melakukan upaya pelestarian Sastra
melalui “SandiwaraSastra”. Dengan semakin banyak orang membaca dan mendengarkan
karya sastra, semakin banyak juga orang yang menemukan nilai-nilai kehidupan
dan pengaruh Sastra bagi kehidupan.”
Lanjutnya, “Kemendikbud juga ingin
membangkitkan minat untuk menulis agar tercipta karya-karya sastra baru yang
berkualitas. Bahkan, gerakan untuk menghidupkan kembali kecintaan terhadap
sastra Indonesia di kalangan anak muda.”
“Bisa saya sampaikan, bila karya Sastra Indonesia masuk kurikulum, terlebih di masa pandemi, ini tentu jadi kian melekatkan karya Sastra pada kaum muda Indonesia. Tentu saya menyambut sandiwara radio ini bisa menjadi media untuk lebih memperkenalkan Sastrawan terbaik Inonesia melalui karya-karyanya,” kata Christine Hakim.
Taburan bintang di “Sandiwara
Sastra” yang diproduseri oleh aktor film dan teater Happy Salma dan Produser film Yulia Evina Bhara, di antaranya Adinia
Wirasti, Ario Bayu, Arswendy Bening
Swara, Asmara Abigail, Atiqah Hasiholan, Chelsea Islan, Chicco Jerikho, Christine Hakim, Eva Celia, Happy Salma,
Iqbaal Ramadhan, Jefri Nichol, Kevin Ardillova, Lukman Sardi, Lulu Tobing,
Marsha Timothy, Mathias Muchus, Maudy Koesnaedi, Najwa Shihab, Nicholas
Saputra, Nino Kayam, Oka Antara, Pevita Pearce, Reza Rahadian, Rio Dewanto,
Tara Basro, Vino G. Bastian dan Widi
Mulia.
Disutradarai oleh aktor dan
sutradara dari Teater Garasi Gunawan Maryanto, Sandiwara Sastra akan dilengkapi
dengan tata musik dan suara yang akan membuat alih wahana karya sastra semakin
dapat dipahamimaknanya.
Sebagai tahap pertama dari seri
Sandiwara Sastra, 10 karya sastra yang dapat dinikmati masyarakat adalah adaptasi
dari novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya
Ahmad Tohari, novel “Helen dan Sukanta” karya Pidi Baiq, cerita pendek (cerpen) “Kemerdekaan” karya Putu Wijaya, cerpen “Mencari
Herman” karya Dee Lestari, cerpen “Berita
dari Kebayoran” karya Pramoedya Ananta Toer, novel “Lalita”
karya Ayu Utami, cerpen “Seribu
Kunang-kunang di Manhattan” karya Umar Kayam, cerpen “Persekot”
karya Eka Kurniawan, novel “Layar
Terkembang” karya Sutan Takdir Alisjahbana, dan novel “Orang-orang Oetimu” karya Felix K.Nesi.
15 Novermber 2019 @Gandaria City – Jakarta Selatan Menjalani gaya hidup yang aktif, ditunjang penampilan berpesona, dari pakaian hingga menggunakan makeup, sudah menjadi bagian keseharian bagi wanita Indonesia. Bahkan ditemukan, lebih dari setengah wanita aktif berusia 18-30 tahun di Indonesia menganggap penggunaan makeup membuat penampilan terlihat lebih segar dan profesional, serta meningkatkan kepercayaan diri. Demikian […]
10 September 2019 @ Galeri Indonesia Kaya – GI – Jakarta Sebuah kisah perjalanan mengarungi keberagaman alam Indonesia — Sabang hingga Merauke, dari Miangas ke Pulau Rote — yang begitu indah, budaya serta kuliner Indonesia yang memukau, diangkat dan dikemas ke dalam sebuah karya penuh pesona. Maka siapa pun yang berkesempatan melihat tayangan kisah perjalanan […]
Film animasi Disney ‘Mulan’ yang mengangkat kisah tentang seorang wanita muda pemberani yang mempertaruhkan segalanya karena cinta pada keluarga dan Negaranya, pertama dirilis tahun 1998, telah menjadi salah satu pejuang terhebat di China. Bahkan, menjadi bagian dari imajinasi para penggemar di seluruh Dunia. Di Tahun 2020, film Disney’s ‘Mulan’ dengan kemasan ekslusif, yang segera hadir […]